Biji Nangka, Tahta Tertinggi Kue Tradisional Bugis-Makassar
Biji nangka - (foto by tokowahab)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di antara deretan kue tradisional Bugis-Makassar, Biji Nangka menempati tempat yang istimewa.
Bentuknya menyerupai biji buah nangka, tetapi kisah di balik kue berwarna kuning ini jauh lebih panjang daripada sekadar urusan rasa.
Biji Nangka merupakan salah satu kue tradisional masyarakat Bugis dan Makassar. Dalam sebuah kajian mengenai kuliner tradisional pada upacara adat di Sulawesi Selatan yang tersimpan di repositori Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), kue ini disebut memiliki kedudukan khusus dalam tradisi masyarakat Bugis.
Dahulu, Biji Nangka tidak dibuat untuk sembarang kesempatan. Kue tersebut hanya dikenal di lingkungan bangsawan dan dipersembahkan sebagai hidangan bagi raja.
Seiring perubahan zaman, tradisi itu bergeser. Biji Nangka kemudian menjadi bagian dari sajian masyarakat luas, terutama dalam berbagai prosesi adat dan perayaan perkawinan Bugis-Makassar.
Dalam perkawinan adat, kehadiran Biji Nangka bukan sekadar pelengkap hidangan. Kajian tersebut mencatat kue ini mengandung makna minasa, yang berkaitan dengan cita-cita dan harapan baik bagi kedua mempelai.
Karena itu, Biji Nangka ditempatkan sebagai salah satu hidangan yang melambangkan penghormatan kepada keluarga pengantin.
Perjalanan Biji Nangka menggambarkan bagaimana makanan tradisional dapat melewati batas kelas sosial tanpa kehilangan akar budayanya.
Disbudpar Sulsel mencatat bahwa kekayaan kuliner daerah merupakan bagian penting dari identitas budaya Sulawesi Selatan. Pemerintah Kota Makassar juga terus menjadikan kue tradisional sebagai bagian dari promosi kuliner daerah.
Dalam Indonesia City Expo 2024, misalnya, Pemkot Makassar membawa sekitar 200 kue tradisional Bugis-Makassar untuk diperkenalkan kepada pengunjung.
Biji Nangka termasuk di dalamnya, bersama sejumlah panganan lain seperti Sanggara Balanda, Bannang-Bannang, Cucuru Bayao, Barongko, dan Katirisala.
Kehadiran Biji Nangka dalam agenda promosi tersebut memperlihatkan bahwa kue yang dahulu identik dengan lingkungan bangsawan kini justru menjadi bagian dari wajah kuliner Makassar yang diperkenalkan kepada publik lebih luas.
Bukan tanpa alasan. Kue tradisional Bugis-Makassar memiliki keragaman yang kuat, mulai dari panganan berbahan pisang, tepung, telur, gula, hingga santan.
Dalam kajian gastronomi yang terindeks Garuda Kemdikbudristek, Biji Nangka disebut secara khusus sebagai salah satu kue tradisional khas suku Bugis dan Makassar.
Nama Biji Nangka merujuk pada bentuknya yang dibuat menyerupai biji buah nangka. Di balik tampilannya yang sederhana, proses pembuatannya membutuhkan ketelitian agar bentuk, tekstur, warna, dan cita rasanya tetap terjaga.
Karakter tersebut membuat Biji Nangka berbeda dari sekadar kudapan pasar. Ia hadir sebagai produk kuliner yang membawa cerita tentang status sosial, penghormatan, harapan, dan tradisi.
Hal serupa juga terlihat pada sejumlah kue tradisional lain di Sulawesi Selatan. Barongko, misalnya, memiliki filosofi yang dikaitkan dengan kejujuran karena bagian dalam dan pembungkusnya sama-sama berasal dari pisang.
Disbudpar Sulawesi Selatan menempatkan filosofi tersebut sebagai bagian dari cerita yang melekat pada penyajian Barongko.
Biji Nangka memiliki jalur cerita yang berbeda. Kekuatan utamanya justru terletak pada sejarahnya sebagai hidangan yang dahulu disajikan untuk kalangan bangsawan dan raja, sebelum akhirnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Perubahan status Biji Nangka menunjukkan bahwa pelestarian kuliner tradisional tidak selalu berarti mempertahankan makanan hanya dalam ruang adat.
Membawanya ke ruang publik, memperkenalkannya kepada generasi muda, dan menjadikannya bagian dari industri kuliner juga menjadi cara untuk menjaga keberlangsungannya.
Pemkot Makassar sebelumnya menekankan pentingnya pelestarian kue tradisional karena kuliner tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi dan pariwisata.
Dalam sebuah workshop kue tradisional pada 2019, pemerintah daerah mendorong peningkatan kualitas produk dan keterampilan pelaku usaha agar panganan tradisional tetap mampu bersaing.
Upaya itu kini menemukan konteks yang lebih luas. Pada ASEAN Day Food Festival 2026 di Jakarta, Dekranasda Makassar kembali membawa kekayaan kuliner Sulawesi Selatan ke forum internasional.
Pemkot Makassar menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya dan kuliner Indonesia Timur kepada masyarakat dari berbagai negara.
Di tengah derasnya arus kuliner modern, Biji Nangka tetap menyimpan kekuatan yang tidak dimiliki banyak makanan baru: sebuah cerita.
Dari dapur bangsawan hingga meja masyarakat, dari hidangan adat hingga materi promosi pariwisata, Biji Nangka telah melewati perjalanan panjang.
Bentuknya mungkin hanya menyerupai sebuah biji kecil, tetapi di dalamnya tersimpan sejarah tentang penghormatan, harapan, dan cara masyarakat Bugis-Makassar menjaga warisan leluhur melalui rasa.
Bagi mereka yang mengenal kuliner Sulawesi Selatan, Biji Nangka pada akhirnya bukan sekadar kue. Ia adalah salah satu potongan kecil dari sejarah besar kebudayaan Bugis-Makassar.
