Manisnya Taripang, Cerita Lama yang Tak Boleh Hilang
Kue Taripang - (int)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Lapisan gula merah yang mengeras
menjadi selimut tipis. Di baliknya, adonan lembut dan gurih menyimpan aroma
kelapa. Sekali digigit, rasa manis pekat menyapa lebih dulu, lalu perlahan
berganti menjadi gurih dan empuk.
Begitulah taripang.
Kue sederhana ini mungkin tak semewah pastry di etalase
hotel. Namun bagi masyarakat Bugis-Makassar, taripang bukan sekadar teman minum
kopi.
Ia adalah bagian dari ingatan—tentang dapur rumah,
tangan-tangan yang mengolah bahan sederhana, serta tradisi yang diwariskan dari
generasi ke generasi.
Di Sulawesi Selatan, taripang dikenal sebagai kue
tradisional berbahan tepung yang digoreng lalu dilapisi gula aren.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui platform
Desa Wisata mencatatnya sebagai salah satu produk kuliner khas Bugis-Makassar.
Dari dapur keluarga, taripang perlahan bergerak ke ruang
promosi pariwisata dan ekonomi kreatif.
Proses pembuatannya sederhana, adonan dibentuk, digoreng
hingga matang, lalu dibalut gula merah yang dimasak hingga mengental.
Hasilnya menghadirkan kontras rasa dan tekstur—luar yang
legit dan sedikit renyah, bagian dalam yang lembut, gurih, dan harum kelapa.
Kontras itu kerap dimaknai sebagai simbol kehidupan.
Kelapa melambangkan kenikmatan dan kebermanfaatan, sementara
gula merah yang mengeras di luar dipandang sebagai lambang kekuatan dan
keteguhan.
Pemaknaan ini berkembang sebagai filosofi budaya, sejalan
dengan tradisi Bugis-Makassar yang menempatkan makanan bukan sekadar santapan,
tetapi juga bagian dari simbol sosial dan adat.
Dahulu, taripang hadir dalam berbagai peristiwa keluarga
seperti pernikahan dan akikah—sebagai hantaran maupun sajian untuk tamu.
Dalam budaya Bugis-Makassar, jamuan bukan perkara sepele,
melainkan bentuk penghormatan dan kebersamaan.
Kini, taripang menghadapi tantangan zaman. Kajian
Universitas Negeri Makassar mencatat menurunnya minat sebagian konsumen
terhadap kue tradisional di tengah gempuran makanan modern. Inovasi dan
pemasaran pun menjadi kunci agar kuliner tradisional tetap bertahan.
Di sinilah taripang menemukan panggung baru. Pada 2021, Pemerintah
Kota Makassar menginisiasi gerakan “Makan Taripang, Minum Kopi” sebagai upaya
menggerakkan UMKM di lorong wisata.
Beberapa tahun kemudian, dalam Indonesia City Expo 2024,
Pemkot Makassar juga menghadirkan sekitar 200 jenis kue tradisional Bugis-Makassar
sebagai bagian dari penguatan identitas kuliner kota.
Pesannya jelas, kuliner tradisional tidak harus berhenti
sebagai warisan masa lalu. Ia bisa menjadi identitas, bahkan kekuatan ekonomi.
Di tengah derasnya tren makanan modern, taripang tetap memiliki
satu modal utama—jati diri.
Aroma kelapa, legit gula aren, dan teksturnya yang khas tak
perlu diubah untuk dikenali. Yang diperlukan adalah cara baru untuk
menyampaikannya.
Taripang bisa hadir sebagai oleh-oleh, sajian kedai kopi,
hingga bagian dari wisata kuliner. Yang berubah adalah kemasannya, bukan
resepnya.
Pada akhirnya, taripang adalah cerita tentang sesuatu yang
kecil tetapi bertahan. Tentang resep yang tak selalu ditulis, tetapi diingat.
Tentang rasa yang mampu membawa seseorang kembali ke kampung halaman.
Lapisan gulanya mungkin mengeras, zaman terus berubah, dan
selera berganti. Namun selama masih ada yang membuat dan mencicipinya, taripang
belum selesai bercerita.
Sebab, warisan kuliner bertahan bukan karena ia diam,
melainkan karena ia tetap dikenali, dibuat, dan dicintai.
