Jangan Keliru, Ini Perbedaan Keracunan dan Alergi

Ilustrasi - (foto by chatgpt)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan keracunan makanan dengan alergi makanan.

Meski sama-sama dapat menimbulkan keluhan setelah seseorang mengonsumsi makanan tertentu, keduanya memiliki penyebab dan pola kejadian yang berbeda.

Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, Dr. Yogi Prawira, mengatakan keracunan dapat dialami siapa saja yang mengonsumsi makanan atau minuman tercemar.

Sementara alergi hanya terjadi pada orang yang memiliki sensitivitas terhadap kandungan tertentu dalam makanan.

"Keracunan menimpa siapa pun yang memakannya, alergi hanya menimpa orang tertentu. Karena itu, keracunan bisa menjadi wabah, sementara alergi tidak," kata Yogi dalam diskusi media di Jakarta, Jumat (11/9).

Menurut Yogi, keracunan makanan terjadi akibat konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri, racun, virus, parasit, maupun bahan kimia.

Karena sumber paparannya dapat dikonsumsi banyak orang, kasus keracunan berpotensi terjadi secara bersamaan dalam jumlah besar.

Keluhan yang umum muncul antara lain mual, muntah, diare, nyeri perut, demam, hingga pusing.

Gejala biasanya muncul beberapa jam setelah makanan dikonsumsi, tetapi pada kondisi tertentu dapat baru terasa dalam satu hingga dua hari.

Berbeda dengan keracunan, alergi makanan merupakan respons sistem kekebalan tubuh terhadap protein tertentu dalam makanan.

Reaksi ini hanya muncul pada individu yang memiliki sensitivitas terhadap pemicu alergi tersebut.

Gejala alergi dapat muncul relatif cepat, mulai dari hitungan menit hingga beberapa jam setelah paparan.

Tandanya antara lain gatal, biduran, pembengkakan pada bibir atau kelopak mata, sesak napas, hingga penurunan kesadaran.

Yogi menjelaskan reaksi alergi tidak menyebar dari satu orang ke orang lain. Kondisi tersebut merupakan respons tubuh individu terhadap zat pemicu tertentu, bukan akibat paparan agen penyakit yang dapat menular.

Anak dan remaja, lanjut Yogi, menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian dalam kasus keracunan makanan.

Salah satu alasannya adalah cadangan cairan tubuh mereka lebih kecil dibandingkan orang dewasa sehingga kehilangan cairan akibat muntah atau diare dapat berdampak lebih cepat terhadap kondisi tubuh.

Selain itu, sistem kekebalan dan saluran pencernaan anak yang masih berkembang membuat mereka lebih rentan terhadap paparan mikroorganisme penyebab penyakit.

Faktor lingkungan juga turut berpengaruh. Anak dan remaja lebih sering mengonsumsi makanan di luar rumah, seperti membeli jajanan di kantin maupun pedagang kaki lima, sehingga pengawasan terhadap kebersihan makanan tidak selalu berada dalam kendali keluarga.

Pada anak yang masih kecil, gejala keracunan juga tidak selalu mudah dikenali. Mereka terkadang belum mampu menjelaskan keluhan yang dirasakan sehingga perubahan perilaku, seperti menjadi lebih diam atau terlihat lemas, perlu menjadi perhatian orang tua.

Data Pusat Analisis Kebijakan Obat dan Makanan BPOM pada 2024 mencatat 806 dari total 1.164 kasus keracunan obat dan makanan di Indonesia berkaitan dengan makanan dan minuman.

Dalam data yang sama, kelompok usia 12 hingga 25 tahun menyumbang 42,96 persen kasus keracunan.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap konsumsi makanan, terutama pada anak dan remaja yang lebih sering membeli makanan di luar rumah.

Sumber: ANTARA