Ini Alasan Perempuan Haid Dianjurkan ke Lapangan Salat Id
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Gema takbir di pagi Idulfitri
bukan hanya milik mereka yang bersujud dalam saf. Bagi para perempuan yang
sedang berhalangan (haid), lapangan salat Id tetap menjadi tempat yang penuh
berkah untuk merayakan kemenangan.
Lebih dari sekadar ritual ibadah salat, Idulfitri sebenarnya
adalah perayaan tentang kebersamaan dan kegembiraan yang inklusif—sebuah momen
di mana tidak ada satu pun Muslim yang boleh merasa ditinggalkan.
Sisi hangat dari ajaran Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa
keberkahan hari raya ini milik seluruh umat. Beliau sangat menganjurkan agar
seluruh kaum Muslimin, tanpa terkecuali, hadir memenuhi lapangan tempat salat
Id digelar. Tujuannya indah: agar aroma kebaikan dan pesan-pesan damai dari
khatib bisa meresap ke dalam hati setiap orang yang hadir.
Bahkan, ada pesan yang begitu menyentuh terkait kaum
perempuan. Bagi mereka yang sedang berhalangan (haid) dan tidak dapat
menjalankan ibadah salat, Nabi SAW tetap memerintahkan mereka untuk datang ke
lokasi.
Meski mereka memisahkan diri dari barisan saf dan tidak
mengikuti gerakan salat, kehadiran mereka di sekitar lapangan menjadi simbol
bahwa sukacita Idulfitri melampaui batasan fisik ibadah.
Hal ini dijelaskan dalam hadis dari Ummu ‘Athiyyah ra:
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ
أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي
الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ قُلْتُ يَا رَسُولَ
اللهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا
جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا
مِنْ جِلْبَابِهَا.
“Rasulullah SAW memerintahkan kami supaya menyuruh mereka
keluar pada hari Idulfitri dan Iduladha: yaitu semua gadis remaja, wanita
sedang haid, dan wanita pingitan. Adapun wanita-wanita sedang haid supaya tidak
memasuki lapangan tempat salat, tetapi menyaksikan kebaikan hari raya itu dan
panggilan kaum Muslimin. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana salah seorang
kami yang tidak mempunyai baju jilbab? Rasulullah menjawab: Hendaklah temannya
meminjaminya baju kurungnya.” (HR. al-Jama‘ah, lafal Muslim).
Kepedulian ini bahkan menyentuh hal yang paling mendasar,
yakni pakaian. Konon, jika ada seorang Muslimah yang tidak memiliki pakaian
luar atau jilbab untuk pergi ke lapangan, Nabi SAW menyarankan agar saudaranya
meminjamkan pakaian miliknya.
Dalam riwayat lain dari Imam Ahmad, ditekankan pula tujuan
kehadiran mereka:
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ اْلأَنْصَارِيَّةِ
قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الْعَوَاتِقَ
وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الْمُصَلَّى وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَالدَّعْوَةَ مَعَ الْمُسْلِمِينَ
“Diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyyah al-Anshariyyah bahwa ia berkata:
Rasulullah Saw memerintahkan kami supaya menyuruh keluar semua gadis remaja,
wanita sedang haid, dan wanita pingitan. Adapun wanita sedang haid supaya tidak
memasuki lapangan tempat salat, tetapi menyaksikan kebaikan hari raya itu dan
dakwah yang disampaikan khatib bersama kaum Muslimin.” (HR. Ahmad).
Pesan yang tersirat sangatlah dalam: Idulfitri adalah
tentang kehadiran. Ini adalah waktu di mana setiap anggota keluarga, dalam
kondisi apa pun, diajak untuk melangkah bersama menuju lapangan, menghirup
udara kemenangan, dan saling memaafkan di bawah langit yang sama.
Karena pada akhirnya, Idulfitri bukan hanya milik mereka yang bersujud, tapi milik setiap hati yang merayakan kemenangan iman.
Sumber: Muhammadiyah
