Barongko, Kudapan Segitiga Berisi Filosofi Hidup

Ilustrasi kue Barongko - (int)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Ada yang sederhana dari barongko, tetapi justru kesederhanaan itu yang membuatnya mudah dikenali.

Sepintas, kudapan khas Sulawesi Selatan ini hanya berupa adonan pisang berwarna putih kekuningan yang dibungkus daun pisang.

Namun, ketika bungkusnya dibuka, aroma pisang dan teksturnya yang lembut segera menghadirkan cita rasa yang khas.

Barongko merupakan salah satu penganan tradisional yang lekat dengan masyarakat Bugis-Makassar.

Bahan utamanya adalah pisang, umumnya pisang kepok yang sudah matang, kemudian diolah dan dibungkus kembali menggunakan daun pisang sebelum dikukus.

Keunikannya bukan hanya pada rasa. Barongko memiliki bentuk khas yang menyerupai prisma segitiga karena dibungkus dengan cara tertentu menggunakan daun pisang.

Perpaduan warna pucat dari adonan pisang dan hijau daun pembungkus membuatnya sederhana secara tampilan, tetapi tetap menarik ketika disajikan.

Di sejumlah kesempatan, barongko hadir sebagai bagian dari jamuan. Pemerintah Kota Makassar bahkan beberapa kali menyajikannya sebagai kudapan untuk menjamu tamu, berdampingan dengan kuliner khas lainnya.

Di balik rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut, barongko menyimpan filosofi yang cukup dalam. Masyarakat Bugis mengenalnya sebagai simbol kejujuran.

Pesan itu lahir dari bahan dan pembungkusnya. Barongko dibuat dari pisang, lalu dibungkus dengan daun pisang. Bagian luar dan dalamnya sama-sama berasal dari tanaman yang sama.

Filosofi tersebut sebagai gambaran bahwa sesuatu yang terlihat dari luar seharusnya selaras dengan apa yang ada di dalam.

Dalam tutur lisan Bugis-Makassar, kue ini menjadi pengingat agar niat dalam hati, kata yang terucap dari mulut, serta tindakan yang dilakukan senantiasa selaras tanpa kebohongan.

Karena itu, barongko kerap dikaitkan dengan nilai kejujuran dalam kehidupan.

"Barongko bisa dibilang kue kejujuran sebab berbahan pisang dan dibungkus dengan daunnya juga. Maksudnya, apa yang terpikirkan dan dirasakan harus selaras dengan tindakan yang dilakukan," kata Nita (50), salah seorang penjual kue tradisional di Makassar.

Filosofi tersebut membuat barongko tidak sekadar ditempatkan sebagai makanan penutup. Ia menjadi bagian dari cara masyarakat menyampaikan nilai melalui hidangan yang disajikan kepada orang lain.

Dalam tradisi masyarakat Bugis-Makassar, barongko juga kerap hadir dalam berbagai acara keluarga dan perayaan.

Kudapan ini dikenal sebagai salah satu sajian dalam jamuan, termasuk ketika keluarga menggelar hajatan.

Kini, barongko relatif mudah ditemukan di Makassar. Pemkot Makassar juga memasukkannya dalam deretan kuliner khas yang menjadi bagian dari identitas kota.

Bahkan dalam sejumlah jamuan resmi, barongko tetap hadir sebagai representasi cita rasa lokal.

Kedekatan barongko dengan kehidupan masyarakat membuatnya bertahan melewati perubahan zaman.

Dari hidangan dalam ruang-ruang perjamuan, kudapan ini kini dapat dinikmati lebih luas tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.

Meski kini mudah ditemukan di warung-warung pasar tradisional, sejarah mencatat barongko dahulunya merupakan hidangan istimewa kaum bangsawan dan raja-raja Bugis-Makassar yang bernilai tinggi.

Nilai budaya yang melekat pada barongko mendapat pengakuan pemerintah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Barongko sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2017 melalui SK Nomor 260/M/2017.

Dalam basis data resmi pemerintah, barongko tercatat berasal dari Sulawesi Selatan dan masuk domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional. 

Penetapan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah melindungi berbagai karya budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Proses penetapan warisan budaya takbenda sendiri mencakup inventarisasi, verifikasi, kajian oleh tim ahli hingga penetapan dan pemberian sertifikat kepada pemerintah daerah.

Barongko akhirnya tidak hanya berbicara tentang pisang yang dihaluskan, daun yang dilipat, atau rasa manis yang tertinggal di lidah.

Di balik bentuk sederhananya terdapat pesan tentang bagaimana manusia seharusnya menjaga keselarasan antara apa yang tampak, apa yang dipikirkan, dan apa yang dilakukan.

Sebuah pesan lama yang tetap relevan. Yang terlihat di luar semestinya sama dengan yang tersimpan di dalam.