Jalan Kaki vs Lari, Mana yang Lebih Efektif Menurunkan Tekanan Darah?
Ilustrasi - (foto by Pexels)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Jalan kaki dan lari sama-sama dapat membantu mengontrol tekanan darah. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan lari berpotensi memberikan penurunan tekanan darah sedikit lebih besar, terutama pada orang yang telah mengalami hipertensi.
Aktivitas fisik merupakan salah satu faktor yang dapat dimodifikasi untuk membantu menjaga tekanan darah tetap terkendali. Jalan kaki maupun lari juga relatif mudah dilakukan karena tidak membutuhkan banyak peralatan.
Melansir dari laman kesehatan Eating Well, Dokter spesialis penyakit dalam Oluwatosin Ajao, M.D., mengatakan jalan kaki merupakan aktivitas sederhana yang efektif untuk mendukung kesehatan jantung.
“Jalan kaki cepat selama 20 hingga 40 menit, tiga hingga lima kali seminggu, dapat meningkatkan kesehatan jantung dan membantu menurunkan risiko stroke dalam jangka panjang,” kata Ajao.
Menurut Ajao, kebiasaan berjalan kaki secara rutin dapat membantu menurunkan tekanan darah sistolik maupun diastolik. Analisis terhadap sejumlah penelitian menunjukkan jalan kaki dapat menurunkan tekanan darah sistolik sekitar 4 mmHg dan diastolik sekitar 2 mmHg.
Manfaat tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesehatan jantung. Aktivitas fisik juga dapat membantu mengurangi respons tubuh terhadap stres, yang pada akhirnya berperan dalam menjaga tekanan darah.
Sementara itu, lari cenderung memberikan efek penurunan tekanan darah yang lebih besar. Salah satu penelitian menemukan bahwa lari dapat menurunkan tekanan darah sistolik rata-rata 4,2 mmHg dan diastolik 2,7 mmHg.
Pada penderita hipertensi, penurunannya masing-masing mencapai sekitar 5,6 mmHg dan 5,2 mmHg.
Dokter spesialis penyakit dalam Nneoma Oparaji, M.D., M.H.S., ABOM, DipABLM, menjelaskan lari dapat memperkuat fungsi jantung sehingga organ tersebut mampu memompa darah dengan lebih efisien.
“Lari seperti latihan kekuatan bagi jantung. Aktivitas ini melatih jantung untuk memompa darah dengan lebih efisien sehingga dapat melakukan lebih banyak pekerjaan dengan usaha yang lebih kecil. Hal tersebut membantu menurunkan tekanan darah,” ujar Oparaji.
Meski berpotensi memberikan manfaat lebih besar, lari bukan berarti menjadi pilihan terbaik bagi semua orang.
Oparaji menekankan pentingnya konsistensi karena lari membutuhkan daya tahan dan intensitas lebih tinggi. Bagi sebagian orang, jalan kaki justru lebih mudah dipertahankan sebagai rutinitas.
Orang dewasa umumnya dianjurkan melakukan sedikitnya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang setiap pekan, seperti jalan cepat atau joging ringan.
Alternatifnya, aktivitas intensitas tinggi seperti lari dapat dilakukan setidaknya 75 menit per pekan. Kedua jenis aktivitas tersebut juga dapat dikombinasikan.
Latihan kekuatan sedikitnya dua kali seminggu turut direkomendasikan untuk menunjang kebugaran secara menyeluruh dan membantu menjaga tekanan darah.
Bagi mereka yang belum terbiasa berolahraga, Ajao menyarankan agar latihan dimulai secara bertahap. Durasi, kecepatan, dan intensitas dapat ditingkatkan perlahan sesuai kemampuan tubuh.
Olahraga juga perlu dihentikan dan mendapat pertolongan medis apabila muncul gejala seperti nyeri atau tekanan di dada, pusing, jantung berdebar atau berdetak tidak teratur, serta sesak napas yang tidak biasa.
Dengan demikian, tidak ada satu jenis olahraga yang mutlak lebih unggul untuk semua orang. Jalan kaki maupun lari dapat memberikan manfaat bagi tekanan darah, sementara konsistensi menjadi salah satu kunci utama untuk memperoleh manfaat tersebut.
