Bangun Tidur Malah Ngantuk? Kenali Sleep Inertia

Ilustrasi - (foto by pexels)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Pernah merasa semakin ngantuk, lemas, atau sulit fokus setelah bangun tidur? Kondisi tersebut bisa berkaitan dengan sleep inertia, yakni keadaan ketika tubuh dan otak membutuhkan waktu untuk sepenuhnya beralih dari tidur ke kondisi terjaga.

Melansir Sleep Foundation, sleep inertia dapat ditandai dengan rasa grogi, mengantuk, kebingungan, sulit berkonsentrasi, hingga respons yang melambat setelah seseorang terbangun.

Kondisi ini biasanya hanya berlangsung sementara. Namun, pada sebagian orang, rasa tidak segar setelah bangun dapat bertahan lebih lama, terutama ketika terbangun dari tidur yang lebih dalam.

Menurut Sleep Foundation, sleep inertia lebih mungkin muncul ketika seseorang terbangun dari tahap tidur yang lebih dalam. Kondisi ini juga dapat terjadi setelah tidur siang yang terlalu lama.

Itulah sebabnya seseorang yang berniat tidur siang selama beberapa saat terkadang justru bangun dengan kepala terasa berat dan tubuh semakin mengantuk.

Tidur yang terlalu lama membuat seseorang memiliki kemungkinan lebih besar terbangun ketika berada dalam tahap tidur yang lebih dalam. Akibatnya, tubuh dan otak membutuhkan waktu untuk kembali mencapai tingkat kewaspadaan normal.

Durasi sleep inertia berbeda pada setiap orang. Melansir Sleep Foundation, rasa grogi setelah bangun umumnya berlangsung sekitar 30 hingga 60 menit, meski pada kondisi tertentu dapat bertahan lebih lama.

Kurang tidur juga dapat membuat rasa kantuk dan kesulitan berkonsentrasi setelah bangun menjadi lebih terasa.

Karena itu, rasa lemas sesaat setelah bangun tidak selalu berarti kualitas tidur buruk. Tubuh memang membutuhkan waktu untuk berpindah dari kondisi tidur menuju keadaan sepenuhnya terjaga.

Cara Mengurangi Sleep Inertia

Salah satu cara yang dapat dicoba adalah menghindari tidur siang terlalu lama. Sleep Foundation menyebut tidur siang singkat sekitar 20–30 menit dapat membantu meningkatkan kewaspadaan tanpa terlalu meningkatkan risiko bangun dalam kondisi grogi.

Selain itu, menjaga waktu tidur malam tetap cukup juga penting. Tidur siang sebaiknya tidak dijadikan pengganti tidur malam.

Setelah bangun, seseorang juga dapat memberi tubuh waktu untuk beradaptasi sebelum langsung melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Paparan cahaya dan aktivitas ringan dapat membantu tubuh menjadi lebih waspada.

Sleep inertia yang muncul sesekali umumnya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Namun, jika rasa kantuk berlebihan terjadi hampir setiap hari meskipun waktu tidur sudah cukup, kondisi tersebut sebaiknya diperhatikan.

 Menurut Sleep Foundation, sleep inertia yang berat dan terus mengganggu aktivitas sehari-hari dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, terutama jika disertai masalah tidur lainnya.

Sumber: Sleep Foundation