Sering Kentut, Normal atau Tanda Gangguan Pencernaan?
Ilustrasi - (foto by Pexels)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Kentut sering kali menjadi hal yang memalukan untuk dibicarakan. Padahal, proses alami tubuh ini merupakan bagian penting dari sistem pencernaan yang sehat.
Frekuensi seseorang kentut pun ternyata bisa berbeda-beda, dipengaruhi oleh pola makan, kebiasaan sehari-hari, hingga kondisi kesehatan tertentu.
Banyak orang mengira sering kentut selalu menjadi tanda gangguan pencernaan. Faktanya, peningkatan produksi gas justru bisa menjadi konsekuensi dari pola makan yang lebih sehat, terutama ketika seseorang mulai mengonsumsi lebih banyak makanan tinggi serat.
Ahli gizi Amanda Sauceda, M.S., RD, mengatakan bahwa makanan memiliki pengaruh paling besar terhadap jumlah gas yang dihasilkan tubuh. Menurutnya, hal yang memberi makan bakteri baik di dalam usus juga menjadi penyebab terbentuknya gas.
"Pola makan dapat memiliki dampak terbesar pada gas karena hal yang sama yang memberi makan bakteri usus Anda juga memberi makan kentut Anda, yaitu serat," ujar Sauceda, seperti diberitakan ANTARA yang mengutip Eating Well.
Ia menjelaskan bahwa serat merupakan bagian dari karbohidrat yang tidak dapat dicerna oleh tubuh. Serat akan melewati saluran pencernaan hingga mencapai usus besar, tempat bakteri usus memfermentasinya. Proses fermentasi inilah yang menghasilkan gas.
Karena itu, orang yang mulai meningkatkan konsumsi buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh sering kali mengalami peningkatan frekuensi kentut. Namun kondisi tersebut biasanya hanya berlangsung sementara karena tubuh akan beradaptasi seiring waktu.
Sauceda menyarankan agar penambahan asupan serat dilakukan secara bertahap sehingga sistem pencernaan memiliki waktu untuk menyesuaikan diri dan mengurangi rasa tidak nyaman.
Selain makanan, kebiasaan sehari-hari juga berperan besar dalam pembentukan gas di saluran cerna. Ahli gastroenterologi dari Atlantic Coast Gastroenterology Associates, Sandhya Shukla, MD, menjelaskan bahwa makan terlalu cepat, mengunyah permen karet, minum minuman berkarbonasi, hingga makan sambil berbicara dengan mulut terbuka dapat membuat seseorang lebih banyak menelan udara.
Udara yang masuk ke saluran pencernaan kemudian akan berkumpul bersama gas hasil fermentasi makanan sehingga memicu rasa kembung dan meningkatkan frekuensi kentut.
Di sisi lain, ada pula sejumlah kondisi medis yang dapat menyebabkan produksi gas berlebihan. Menurut Shukla, infeksi pertumbuhan bakteri berlebih di usus halus (SIBO), intoleransi laktosa, penyakit celiac, gangguan pergerakan usus yang dapat terjadi pada penderita diabetes, hingga sembelit dapat membuat gas lebih sulit dikeluarkan atau justru lebih banyak diproduksi.
"Gas usus yang berlebihan dapat disebabkan oleh infeksi SIBO, kondisi seperti intoleransi laktosa dan penyakit celiac, perubahan gerakan usus terutama penurunan motilitas usus, yang dapat terlihat pada diabetes atau penurunan penyerapan gas karena sembelit," jelas Shukla.
Ia menambahkan bahwa kentut merupakan proses alami tubuh untuk membuang gas dari saluran pencernaan melalui anus. Gas tersebut harus dikeluarkan agar keseimbangan di dalam sistem pencernaan tetap terjaga.
Secara umum, orang dewasa yang sehat mengeluarkan gas sekitar 10 hingga 20 kali setiap hari dengan volume total sekitar 500 hingga 1.500 mililiter. Angka tersebut masih dianggap normal dan tidak perlu dikhawatirkan.
Merujuk pada sebuah studi tahun 2026, kentut yang terjadi lebih dari 20 kali sehari mulai dikategorikan sebagai kentut berlebihan. Sementara Sauceda menilai frekuensi lebih dari 25 kali dalam sehari patut mendapat perhatian, terutama jika disertai gejala lain.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa jumlah kentut bukanlah satu-satunya indikator kesehatan pencernaan. Perubahan bau gas yang sangat menyengat, munculnya nyeri perut, perut terasa sangat kembung, diare, sembelit berkepanjangan, hingga adanya darah pada tinja merupakan tanda yang lebih penting untuk diperhatikan.
Jika keluhan tersebut muncul secara terus-menerus atau mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mengetahui penyebabnya.
Namun bagi kebanyakan orang, kentut merupakan proses fisiologis yang normal dan menjadi bagian dari cara tubuh menjaga kesehatan sistem pencernaan.
