Bukan Cuma Bikin Lelah, Salah Durasi Tidur Picu Penuaan Dini
Ilustrasi - (foto by Unsplash)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Rahasia untuk tetap awet muda ternyata tidak melulu soal krim wajah yang mahal atau perawatan estetika yang rumit.
Terkadang, jawabannya sesederhana mengatur waktu istirahat kita di malam hari. Sebuah penelitian terbaru yang dirilis dalam jurnal ilmiah ternama, Nature, baru-baru ini mengungkapkan bahwa durasi tidur seseorang memiliki kaitan yang sangat erat dengan kecepatan penuaan biologis tubuh mereka.
Berdasarkan studi tersebut, orang yang terbiasa memejamkan mata sekitar enam hingga delapan jam per malam cenderung memiliki tingkat penuaan biologis yang jauh lebih rendah.
Secara lebih spesifik, para peneliti menemukan angka untuk durasi tidur paling optimal, yakni berada di kisaran 6,4 hingga 7,8 jam setiap malamnya.
Sebaliknya, mereka yang sering tidur kurang dari enam jam atau justru kebablasan hingga lebih dari delapan jam, memperlihatkan tanda-tanda penuaan tubuh yang bergerak jauh lebih cepat.
Menariknya, para ilmuwan dalam riset ini tidak sekadar melihat usia kronologis seseorang berdasarkan angka di kartu identitas.
Mereka menggunakan indikator "jam biologis" untuk memperkirakan usia sebenarnya dari organ dan sistem di dalam tubuh.
Dengan menganalisis data skala besar dari ratusan ribu orang di UK Biobank—termasuk hasil pemindaian otak, biomarker darah, hingga catatan kesehatan jangka panjang—tim peneliti membandingkan kebiasaan tidur peserta dengan 23 indikator penuaan pada berbagai organ tubuh.
Hasilnya cukup mengejutkan karena efek dari durasi tidur ini ternyata tidak hanya menyerang satu organ saja, melainkan terjadi secara menyeluruh.
Pengaruhnya mencakup sistem saraf di otak, kesehatan jantung, hingga jalur-jalur penting yang berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh kita.
Penelitian ini juga menggarisbawahi bahwa tidur terlalu singkat maupun terlalu lama sama-sama membawa konsekuensi buruk.
Keduanya dikaitkan dengan lonjakan risiko sejumlah penyakit kronis yang mematikan, seperti depresi, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga risiko kematian dini.
Hanya saja, pemicunya sedikit berbeda. Kurang tidur dinilai berdampak langsung karena memicu stres tubuh, peradangan, dan rusaknya imun.
Sementara kebiasaan tidur terlalu lama diduga kuat merupakan sinyal atau "alarm" bahwa sebenarnya sudah ada masalah kesehatan lain yang sedang bersarang di dalam tubuh.
Kendati memberikan pandangan baru yang menarik, para peneliti tetap memberikan catatan kecil. Mengingat studi ini bersifat observasional dan datanya diambil berdasarkan laporan mandiri dari para peserta, riset ini baru bisa menunjukkan adanya hubungan erat, belum sampai ke tahap membuktikan bahwa durasi tidur adalah penyebab langsung dari percepatan penuaan.
Namun terlepas dari keterbatasan itu, temuan ini menjadi pengingat yang sangat berharga bagi kita semua di tengah kesibukan modern yang padat.
Menjaga durasi tidur yang cukup, berkualitas, dan konsisten bukan lagi sekadar urusan melepas lelah, melainkan investasi jangka panjang yang krusial untuk mendukung proses penuaan yang lebih sehat dan bahagia.
Sumber: ANTARA
