Jalan Bonto Marannu dan Kisah Panjang Panglima Gowa Melawan VOC
Plang Jalan Bonto Marannu - (int)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di pusat Kota Makassar, tak jauh dari Pantai Losari, ada sebuah jalan yang panjangnya tak seberapa. Orang-orang menyebutnya Bomar.
Bagi banyak warga, nama itu hanya penunjuk arah, tempat janjian, atau alamat yang diketik di aplikasi peta. Tak banyak yang bertanya dari mana asalnya.
Padahal, Bomar adalah singkatan dari Bonto Marannu, nama seorang panglima perang Kerajaan Gowa yang pernah berhadapan dengan kekuatan dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), pada abad ke-17.
Kisahnya jauh lebih panjang daripada jalan yang menyandang namanya, dan melintasi laut hingga ke Pulau Jawa.
Pertengahan abad ke-17, Gowa adalah kekuatan maritim yang disegani di kawasan timur Nusantara. Pelabuhannya terbuka bagi pedagang dari mana saja.
Di situlah benturan bermula. VOC ingin memonopoli perdagangan rempah, sementara Gowa memilih menjadi pusat niaga yang bebas.
Sultan Hasanuddin memimpin perlawanan, dan Karaeng Bonto Marannu berdiri di barisan militernya. Catatan sejarah menyebut ia pernah memimpin sekitar 10.000 pasukan dalam ekspedisi ke Buton, angka yang menunjukkan betapa besar perannya.
Namun, lawan yang dihadapi Gowa tidak ringan. Selain persenjataan dan siasat perang Belanda, VOC juga didukung kelompok-kelompok lokal yang menjadi sekutunya.
Awal Januari 1667, pasukan Bonto Marannu terdesak. Posisi mereka kian sulit setelah sebagian pasukan berbalik mendukung Arung Palakka.
Pada 4 Januari 1667, Bonto Marannu bersama Sultan Bima dan Opu Cenning Luwu, yang mewakili Gowa, menyatakan menyerah kepada Belanda di bawah pimpinan Cornelis Speelman. Ia pun ditawan.
Tetapi kisahnya tak berhenti di sana. Pada Juni 1667, Bonto Marannu berhasil melarikan diri dan kembali bergabung dengan pasukan Makassar, saat konflik dengan VOC masih terus membara.
Perang Makassar memasuki babak baru ketika Gowa dan VOC menandatangani Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667.
Perjanjian itu membatasi kekuatan politik dan perdagangan Gowa. Meski begitu, perlawanan tak serta-merta padam. Pertempuran masih berlanjut hingga 1669, sampai kekuatan Gowa benar-benar melemah.
Pada titik itu, sebagian orang Makassar memilih meninggalkan kampung halaman ketimbang berhenti berjuang. Bonto Marannu termasuk dalam rangkaian kisah perpindahan para pejuang itu.
Mereka menyusuri jaringan pelayaran Nusantara, singgah di berbagai wilayah pesisir, mencari tempat bermukim sekaligus membangun kembali kekuatan di tengah perubahan politik pasca-perang.
Perjalanan itu akhirnya membawa mereka ke Jawa, yang saat itu juga bergolak. Nama Bonto Marannu kembali muncul dalam catatan tentang orang-orang Makassar di pesisir Jawa pada dekade 1670-an.
Ia disebut terhubung dengan jaringan kekuatan di sekitar Trunajaya, pemimpin pemberontakan terhadap Kerajaan Mataram di masa Amangkurat I. Pemberontakan itu mendapat dukungan dari sejumlah kelompok di luar Mataram, termasuk orang-orang Makassar.
Dari sini terlihat bahwa pertarungan Gowa melawan VOC punya jangkauan yang lebih luas dari yang dibayangkan.
Kisah Bonto Marannu bukan sekadar cerita seorang panglima yang bertempur di Sulawesi Selatan, melainkan bagian dari sejarah perpindahan masyarakat, jaringan pelayaran, dan pergolakan kekuasaan pada abad ke-17.
Berabad-abad kemudian, nama itu hidup di salah satu sudut Makassar. Jalan Bonto Marannu dikenal sebagai ruas pendek di kawasan dekat Losari, dengan sebutan populer Bomar.
Menyingkat nama jalan memang kebiasaan warga Makassar. Di balik sebutan ringkas itu, ada nama tokoh yang jejaknya tercatat dalam sejarah perlawanan terhadap VOC.
Nama Bonto Marannu juga dipakai sebagai nama wilayah di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Namun, kesamaan nama itu tidak selalu berarti setiap wilayah dinamai untuk mengenang sang panglima.
Kisah ini mengingatkan bahwa nama jalan lebih dari sekadar penanda lokasi. Kadang ia menyimpan potongan sejarah tentang tokoh, perjuangan, dan perjalanan masyarakat di masa lampau.
Sejarah Makassar tak hanya tersimpan di bangunan tua atau etalase museum, tetapi juga hidup di nama-nama jalan yang dilewati warga setiap hari.
Di antara riuh lalu lintas dan kesibukan kota, nama Karaeng Bonto Marannu tetap bertahan. Sebuah nama yang menghubungkan Makassar hari ini dengan seorang panglima Gowa yang perlawanannya melampaui tanah kelahirannya.
Jalan Bonto Marannu berada di Kelurahan Maloku, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, tidak jauh dari Pantai Losari dan Jalan Somba Opu. Ruas jalan ini juga berada di sekitar Hotel Almadera dan terhubung dengan Jalan Muchtar Lutfi.
