Iran Ultimatum AS, Desak Pilih Perang atau Kesepakatan Merugikan
Ilustrasi bendera Iran - Amerika Serikat - (fo5o by Anadolu/Antara)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berada di persimpangan pilihan sulit antara melanjutkan konflik militer atau menyetujui kesepakatan yang dinilai merugikan Washington.
Pernyataan itu disampaikan melalui akun resmi IRGC di platform media sosial X pada Minggu. Departemen intelijen IRGC menyebut Teheran telah menetapkan batas waktu bagi militer AS untuk menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Selain itu, Iran menilai sejumlah kekuatan global seperti Eropa, China, dan Rusia semakin menunjukkan sikap kritis terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
"Hanya ada satu cara untuk menafsirkan ini, Trump harus memilih antara operasi militer yang mustahil dilakukan atau kesepakatan buruk dengan Republik Islam Iran. Ruang untuk AS mengambil keputusan menjadi semakin sempit," demikian pernyataan IRGC, dikutip dari Antara, Ahad (3/5/2026).
Ketegangan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan menargetkan Israel serta sekutu AS di kawasan Teluk. Situasi tersebut turut berdampak pada penutupan Selat Hormuz.
Sejak 13 April, Washington juga menerapkan blokade angkatan laut yang menyasar aktivitas pelayaran Iran di kawasan tersebut.
Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui gencatan senjata selama dua pekan yang diumumkan pada 8 April dengan mediasi Pakistan, dilanjutkan perundingan langsung di Islamabad pada 11 April. Namun, negosiasi tersebut belum menghasilkan kesepakatan damai jangka panjang.
Presiden Trump kemudian memutuskan memperpanjang masa gencatan senjata tanpa menetapkan batas waktu baru, mengikuti permintaan dari pihak Pakistan.
Sumber: Anadolu/Antara
