Ketua Parlemen Iran Ancam Respons Keras Jika AS Langgar Kesepakatan
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan Teheran tidak akan tinggal diam apabila Amerika Serikat melanggar komitmen yang telah disepakati atau mengajukan tuntutan yang dinilai berlebihan dalam proses negosiasi kedua negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Ghalibaf melalui akun media sosial X pada Jumat (20/6). Ia mengingatkan bahwa Iran siap memberikan respons tegas terhadap setiap pelanggaran yang dilakukan pihak lawan.
“Jika terjadi pelanggaran komitmen, pelanggaran perjanjian, atau tuntutan berlebihan oleh pihak lain, kami tidak akan ragu untuk memberikan respons yang menghancurkan kepada musuh,” tulis Ghalibaf.
Ia juga menyinggung konflik sebelumnya yang melibatkan Iran dan pihak lawan. Menurutnya, pihak yang dianggap sebagai musuh Iran telah menerima konsekuensi dari tindakan mereka dan akan menghadapi balasan yang lebih berat jika mengulangi langkah serupa.
“Mereka telah ditampar sekali dalam perang: jika mereka memilih untuk mengikuti jalan yang sama lagi, mereka akan menerima tamparan yang lebih keras,” tulisnya.
Dalam pernyataannya, Ghalibaf turut menegaskan bahwa lembaga-lembaga negara Iran menjalankan arahan yang diberikan oleh Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei terkait implementasi kesepakatan yang sedang dibahas.
Ia menyebut tugas yang diberikan kepada mereka adalah “untuk mewujudkan syarat dan ketentuan perjanjian,” sekaligus memastikan seluruh proses berjalan sesuai instruksi yang telah ditetapkan.
Sebelumnya, pada Rabu malam (18/6), Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani secara elektronik dokumen bertajuk “Memorandum of Understanding Islamabad”. Kesepakatan tersebut dirancang sebagai langkah awal untuk membuka jalan menuju berakhirnya konflik yang dipicu oleh operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari.
Berdasarkan isi memorandum, Washington dan Teheran akan menjalani putaran negosiasi selama 60 hari dengan kemungkinan perpanjangan waktu. Perundingan itu bertujuan mencapai kesepakatan final yang mencakup program nuklir Iran serta berbagai sanksi internasional yang selama ini diberlakukan terhadap negara tersebut.
Proses negosiasi tersebut dinilai menjadi salah satu tahapan penting dalam upaya meredakan ketegangan antara kedua negara yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Sumber: Anadolu / Antara
