Iran Tegas Tolak Gencatan Senjata, Ini Alasannya
Rudal Iran - (foto by Shutterstock)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyetujui gencatan senjata selama pihak yang menyerang belum menerima konsekuensi atas tindakannya.
Pernyataan tersebut disampaikan Ghalibaf pada Selasa melalui platform media sosial X.
Ia menilai bahwa pihak agresor harus diberi pelajaran agar tidak kembali melakukan serangan militer terhadap Teheran.
"Kami secara tegas tidak menginginkan gencatan senjata. Kami yakin bahwa agresor harus 'ditampar' agar ia belajar dari kesalahannya dan tidak pernah lagi memikirkan menyerang Iran kami tercinta," tulis Ghalibaf.
Ia juga menyatakan bahwa Iran berupaya memutus pola konflik yang berulang antara perang, negosiasi, hingga gencatan senjata yang kemudian berujung pada konflik kembali.
Menurutnya, Teheran tidak ingin lagi terjebak dalam siklus tersebut.
"Iran berniat memutus siklus 'perang-negosiasi-gencatan senjata dan kemudian berperang lagi'," tambahnya.
Ketegangan meningkat setelah pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur serta menimbulkan korban sipil.
Iran kemudian merespons dengan meluncurkan serangan balasan yang menargetkan wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Pada awalnya, Washington dan Tel Aviv menyebut serangan tersebut sebagai tindakan preemptif untuk menghadapi ancaman yang mereka kaitkan dengan program nuklir Iran. Namun, pernyataan berikutnya menunjukkan bahwa tujuan operasi itu juga berkaitan dengan upaya mendorong perubahan kekuasaan di Iran.
Dalam operasi militer tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas pada hari pertama serangan. Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Di sisi lain, Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Steve Witkoff, menyatakan bahwa Iran menolak untuk membahas program rudalnya dalam perundingan dengan Washington.
Menurut Witkoff, sikap tersebut menjadi batas tegas bagi Amerika Serikat dalam negosiasi.
"Mereka menolak untuk membicarakan rudal-rudal itu dan itu adalah batas kami; dan Anda sekarang dapat melihat alasannya," kata Witkoff kepada Newsmax.
Ia menambahkan bahwa Washington menilai ancaman nuklir Iran sebagai ancaman serius. Namun Presiden Donald Trump juga menginginkan agar Teheran mengurangi kemampuan rudalnya.
"Mereka terlalu berlebihan dan dapat mengalahkan banyak negara di kawasan itu, dan itu menjadikannya ancaman eksistensial bagi kami," ujarnya.
Situasi ini semakin mempertegas ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah serangan militer pada 28 Februari yang memicu saling serang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Sumber: Sputnik-Antara
