Banjir Bandang Nepal Tewaskan 1.204 Orang, Ribuan Masih Hilang
Pemandangan udara yang memperlihatkan kerusakan akibat banjir bandang dahsyat dan aliran material (debris flow) di Devighat, Distrik Nuwakot, Nepal, 30 Agustus (foto by ANTARA/Anadolu)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Korban meninggal akibat banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah utara Nepal terus bertambah. Hingga Rabu (2/9), sedikitnya 1.204 orang tewas, sementara ribuan lainnya masih dinyatakan hilang.
Data tersebut dilaporkan Xinhua dengan mengutip Otoritas Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Nepal. Sebelumnya, Kathmandu Post melaporkan jumlah korban tewas mencapai 1.127 orang.
Bencana terjadi pada Rabu pagi, 26 Agustus 2026, setelah aliran air dan material dalam jumlah besar menerjang kawasan Sungai Bhote Koshi di dekat perbatasan Nepal-China.
Banjir kemudian menyapu permukiman, jalan, jembatan, serta sejumlah fasilitas pembangkit listrik tenaga air.
Bencana tersebut dipicu runtuhnya gletser yang membawa material batuan dan es dalam jumlah besar ke lembah.
Material tersebut kemudian memicu aliran banjir dan longsoran yang bergerak deras ke wilayah di sepanjang aliran sungai.
Upaya pencarian dan penyelamatan masih berlangsung. Otoritas Nepal sebelumnya menyatakan 330 warga negara asing berhasil diselamatkan, sementara ribuan orang lainnya masih belum ditemukan.
Reuters melaporkan pada 2 September bahwa sekitar 900 pekerja fasilitas pembangkit listrik tenaga air masih dikhawatirkan terjebak di dalam terowongan yang tertimbun material banjir.
Tim penyelamat terus berupaya mencapai sejumlah ruang yang diduga masih memiliki udara, makanan, dan air.
Bencana ini menjadi salah satu yang paling mematikan dalam sejarah Nepal.
Kerusakan infrastruktur dan medan pegunungan yang sulit membuat proses evakuasi serta pencarian korban berlangsung lebih lambat.
Para ahli juga menyoroti meningkatnya risiko bencana di kawasan Himalaya akibat perubahan iklim yang mempercepat pencairan dan ketidakstabilan gletser.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan ancaman banjir bandang, longsor, dan runtuhan es di wilayah pegunungan.
Sumber: ANTARA/Sputnik/RIA Novosti
