AS Kawal Diam-diam 20 Tanker Minyak di Selat Hormuz
Ilustrasi Selat Hormuz - (foto by Gemini AI)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Militer Amerika Serikat (AS) disebut diam-diam membantu kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Informasi tersebut dilaporkan Axios pada Rabu dengan mengutip dua pejabat AS.
Operasi rahasia itu disebut telah berlangsung selama beberapa pekan. Sudah ada sekitar 20 kapal tanker dapat bergerak keluar maupun masuk Teluk Persia melalui jalur yang dinilai lebih aman di sepanjang pesisir Oman.
Menurut laporan tersebut, skema pengawalan ini berkaitan dengan distribusi sekitar 10 juta barel minyak setiap hari yang melintasi kawasan perairan strategis tersebut.
Meski volume energi yang keluar melalui Selat Hormuz saat ini diperkirakan hanya sekitar separuh dibandingkan kondisi sebelum perang, dampaknya tetap signifikan terhadap pasokan energi global. Selat tersebut merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
Operasi tersebut dilaporkan berada di bawah pengawasan Markas Besar Angkatan Darat AS di Fort Bragg, North Carolina, dengan melibatkan sejumlah mitra Washington di kawasan Teluk.
Daftar kapal yang dijadwalkan meninggalkan kawasan menuju Laut Arab disusun setiap hari. Informasi serupa juga mencakup kapal tanker kosong yang telah disewa dan bergerak memasuki Teluk dari arah laut.
Kapal-kapal tanker tersebut kemudian disebut bergerak pada malam hari berdasarkan jadwal yang telah ditentukan.
Situasi di Selat Hormuz tidak terlepas dari konflik antara AS dan Iran yang terus mengalami eskalasi. Pada malam sebelum 18 Juni, Teheran dan Washington dilaporkan menandatangani memorandum yang dimaksudkan untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari.
Namun, situasi kembali berubah pada 8 Juli. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata tidak lagi berlaku. Setelah itu, pasukan AS melancarkan sejumlah rangkaian serangan terhadap Iran.
Komando Pusat AS atau US Central Command (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan kembali meningkat pada 12 Juli ketika Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Teheran menyatakan langkah tersebut akan dipertahankan hingga AS menghentikan campur tangannya di kawasan.
Pengumuman itu muncul setelah kembali terjadi rangkaian serangan antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.
Sehari kemudian, Trump menyatakan bahwa AS akan menjadi “penjaga” Selat Hormuz. Pada saat yang sama, Washington kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Perkembangan tersebut membuat Selat Hormuz semakin menjadi titik penting dalam konflik AS-Iran sekaligus jalur yang sangat diperhatikan pasar energi global. Setiap gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi distribusi minyak dan kestabilan pasokan energi dunia.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
