Drone Siluman Mengintai Istana Kepresidenan Venezuela
Istana Kepresidenan Venezuela di Caracas - (foto by AFP)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Aksi teror pasca penculikan Presiden Venezuela dan istrinya, masih berlanjut.
Rentetan tembakan dilaporkan terdengar di sekitar Istana Kepresidenan Venezuela pada Senin (5/1) malam.
Sumber saksi mata menyebutkan sejumlah drone tak dikenal terbang di atas Istana Miraflores di pusat Caracas, dan aparat keamanan melepaskan tembakan balasan sekitar pukul 20.00 waktu setempat (00.00 GMT).
Kejadian ini berlangsung beberapa jam setelah Wakil Presiden Delcy Rodriguez dilantik menjadi Presiden Venezuela menggantikan Nicolas Maduro yang ditahan Amerika Serikat pada akhir pekan lalu.
Seorang warga yang tinggal sekitar lima blok dari Istana Kepresidenan Venezuela menuturkan rentetan tembakan terdengar selama sekitar beberapa menit, meski baku tembak tidak seintens serangan dini hari pada Sabtu lalu yang menggulingkan Maduro.
"Hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah memastikan apakah ada pesawat yang melintas di atas, tapi tidak ada. Saya hanya melihat dua lampu merah di langit," kata warga yang enggan disebutkan namanya itu seperti dikutip AFP, sebagaimana dilaporkan CNN.
"Semua orang melihat ke luar jendela untuk mencari tahu apakah ada pesawat dan apa yang sebenarnya terjadi."
Kementerian Komunikasi Venezuela belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari AFP terkait situasi terkini.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan apa yang diduga sebagai peluru tracer yang ditembakkan ke udara. Dalam video tersebut juga terlihat banyak anggota pasukan keamanan bergegas menuju istana setelah tembakan dilepaskan.
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS telah mengalihkan perhatian dunia ke Delcy Rodríguez, wakil presiden yang dipilih Maduro sebagai tangan kanannya.
Penangkapan Presiden Maduro oleh militer AS mengalihkan perhatian dunia ke Delcy Rodriguez.
Pada Sabtu (3/1) sore, Mahkamah Agung Venezuela memerintahkan agar Delcy Rodríguez mengambil alih posisi kepala negara karena "ketidakhadiran" Maduro.
Dalam sebuah pernyataan, Ketua Mahkamah Konstitusi Venezuela yang menjadi bagian dari Mahkamah Agung, Tania D'Amelio, berpendapat bahwa Konstitusi memberikan mandat kepada wakil presiden untuk mengisi ketidakhadiran sementara atau absolut presiden, seperti yang saat ini dialami negara tersebut.
Hakim itu menyebut operasi militer AS yang mengakibatkan penangkapan Maduro dan istrinya sebagai "penculikan" dan "agresi asing".
Dengan demikian, Mahkamah Konstitusi memberi wewenang kepada Rodríguez untuk memimpin "kedaulatan" dan "menjaga tatanan konstitusional" Venezuela.
Beberapa jam sebelum putusan tersebut, Rodríguez mengutuk tindakan AS. Dia menyebut penangkapan Maduro dan istrinya sebagai "penculikan ilegal dan tidak sah".
"Apa yang dilakukan terhadap Venezuela adalah tindakan biadab," kata Rodríguez dalam pidato yang disiarkan melalui stasiun radio dan televisi nasional.
"Mengepungnya, memblokadenya, adalah tindakan biadab yang melanggar setiap mekanisme sistem hak asasi manusia internasional dan merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Jangan biarkan blokade apa pun mencoba memutarbalikkan kehendak rakyat ini," cetus Rodríguez.
