Trump Ingin AS Tarik Tarif di Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat Donlad Trump - (foto by Antara)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Pernyataan terbaru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menarik perhatian dunia internasional.
Pada Senin (6/4), Trump mengusulkan agar Amerika Serikat mengambil alih pungutan biaya bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, bukan Iran.
Gagasan ini muncul sebagai respons atas wacana Iran yang ingin memberlakukan tarif transit di jalur pelayaran strategis tersebut.
"Bagaimana kalau kita saja yang memungut biaya lintasnya? ... Saya pikir kita saja yang melakukannya daripada mereka," kata Trump merespons pertanyaan wartawan tentang kemungkinan Iran menetapkan tarif kepada kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.
"Kami punya konsepnya di mana kami yang memungut biaya," ucap Presiden AS, menambahkan.
Sebelumnya, pada akhir Maret, Alaeddin Boroujerdi, anggota komisi keamanan nasional dan politik luar negeri parlemen Iran, mengungkapkan rencana negaranya untuk menerapkan aturan pelayaran baru di Selat Hormuz.
Dalam kebijakan tersebut, Teheran akan menjamin keamanan kapal-kapal yang melintas, namun dengan syarat pembayaran biaya transit. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada kapal yang dapat melewati Selat Hormuz tanpa izin dari Iran.
Situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa di kalangan warga sipil.
Sebagai balasan, Teheran melakukan serangan ke berbagai target, termasuk wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Timur Tengah seperti Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Ketegangan ini berdampak langsung pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi minyak dan LPG dari kawasan Teluk ke pasar global. Lalu lintas kapal di wilayah tersebut bahkan sempat terhenti total.
Akibatnya, sejumlah negara mulai merasakan lonjakan harga bahan bakar, yang berpotensi memperburuk kondisi ekonomi global jika konflik terus berlanjut.
Sumber: Sputnik/Antara
