42 Hari Iran Berperang: Gencatan Senjata Goyah, Serangan Terus Berlanjut

Asap membumbung setelah serangan Israel yang dilaporkan menghantam Iran - (foto by Getty Image/ BBC)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Perang Iran memasuki hari ke-42 pada Jumat (10/4/2026) dengan eskalasi baru yang memicu kekhawatiran global, meskipun sebelumnya telah disepakati gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Kesepakatan yang dimediasi oleh Pakistan itu masih menyisakan perbedaan tafsir, terutama terkait cakupan wilayah konflik seperti Lebanon.

Iran menyatakan jika Lebanon masuk dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat. Namun bagi AS, mengakhiri perang di Lebanon bukan bagian dari  kesepakatan gencatan senjata.

Media Al Jazeera melaporkan bahwa Lebanon menetapkan hari berkabung nasional setelah serangan Israel menewaskan sedikitnya 200 orang. Lebih dari 1.000 orang lainnya dilaporkan terluka dalam satu hari serangan intensif.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata. Ia memperingatkan bahwa tindakan itu dapat merusak proses negosiasi dan menegaskan Teheran tidak akan meninggalkan Lebanon.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan telah memerintahkan pembukaan negosiasi langsung dengan Lebanon. Ia menyebut langkah itu dilakukan “sesegera mungkin” menyusul permintaan dari Beirut.

Namun, situasi di lapangan masih jauh dari kondusif. Serangan terus berlangsung, bahkan Israel mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga di pinggiran selatan Beirut. Militer memperingatkan adanya serangan lanjutan yang akan menargetkan wilayah tersebut.

Di sisi lain, jalur diplomasi tetap berjalan. Pakistan kembali menjadi tuan rumah pembicaraan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran. Utusan PBB, Jean Arnault, juga dilaporkan melakukan pertemuan dengan pejabat Iran di Teheran.

Dalam kondisi gencatan senjata yang goyah, ketegangan turut meluas ke kawasan Teluk. Arab Saudi melaporkan serangan Iran menghantam infrastruktur energi yang berdampak pada produksi minyak dan listrik di sejumlah wilayah strategis.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, melakukan kunjungan ke negara-negara Teluk dan menekankan pentingnya membuka kembali Selat Hormuz secara penuh demi menjaga stabilitas global.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia mendesak Israel untuk membatalkan ancaman terhadap fasilitas medis di Beirut. Kanada juga menyerukan Israel agar menghormati kedaulatan Lebanon.

Di dalam negeri Israel, Netanyahu menghadapi kritik dari wilayah utara terkait eskalasi konflik. Sirene serangan udara dilaporkan berbunyi di Haifa dan sekitarnya setelah peluncuran roket dari Lebanon.

Di Irak, serangan drone menghantam fasilitas diplomatik Amerika Serikat di Baghdad. Pemerintah AS bahkan memanggil duta besar Irak menyusul insiden tersebut.

Kota Bint Jbeil menjadi salah satu titik pengepungan dalam ofensif terbaru yang memperparah situasi kemanusiaan.

Di dalam negeri Iran, demonstrasi nasional digelar untuk mengenang pemimpin yang tewas, Ali Khamenei.

Putranya, Mojtaba Khamenei, disebut mulai muncul sebagai sosok pemimpin baru. Ia menyatakan Iran tidak menginginkan perang, namun tetap akan mempertahankan hak dan kepentingan negaranya.

Sumber: Al Jazeera/Tribunnews