Menjemput Impian Enam Dekade The Three Lions

Menjemput Impian Enam Dekade The Three Lions - (foto by @england/instagram)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Bagi publik sepak bola Inggris, kerinduan akan kejayaan tahun 1966 bukan lagi sekadar memori usang, melainkan bahan bakar yang terus membakar ambisi.

Setelah berkali-kali dipaksa menelan pil pahit—terutama saat langkah mereka terhenti di babak semifinal tahun 1990 dan 2018—The Three Lions kini kembali berdiri di ambang sejarah.

Untuk keempat kalinya sepanjang sejarah, Inggris berhasil menembus babak empat besar Piala Dunia. Namun, jalan menuju partai puncak kali ini dipastikan tidak akan mudah. Skuad racikan Thomas Tuchel sudah ditunggu oleh sang juara bertahan, Argentina, dalam laga hidup mati.

Sebelum menyaksikan duel klasik tersebut, mari kita tengok kembali bagaimana pasang surut emosi yang dialami Inggris dalam tiga penampilan semifinal mereka terdahulu di panggung tertinggi sepak bola dunia.

1. Kroasia 2-1 Inggris (perpanjangan waktu) - Rusia 2018

Memori di Rusia mungkin menjadi salah satu yang paling segar sekaligus menyesakkan bagi generasi modern Inggris. Skuad yang kala itu dinakhodai Gareth Southgate sebenarnya memulai laga dengan sangat sempurna.

Baru lima menit peluit dibunyikan, Kieran Trippier sudah membuat publik Inggris bergemuruh lewat eksekusi penalti melengkung yang bersarang indah di pojok gawang Kroasia.

Sayangnya, keunggulan awal itu perlahan sirna setelah Kroasia bangkit mengambil kendali permainan. Ivan Perisic berhasil menyamakan kedudukan di babak kedua, sebelum akhirnya sontekan Mario Mandzukic di babak perpanjangan waktu mengunci kemenangan Kroasia 2-1.

Impian Inggris melangkah ke final pun karam, dan mereka harus puas menyandang predikat peringkat keempat setelah kembali kalah dari Belgia di laga hiburan.

2. Jerman Barat 1-1 Inggris (4-3 adu penalti) - Italia 1990

Mundur ke belakang di Italia 1990, Inggris juga pernah merasakan sedekat itu dengan takdir juara sebelum akhirnya patah hati di Turin.

Menghadapi Jerman Barat, gawang Inggris kebobolan lebih dulu akibat tendangan bebas Andreas Brehme yang berbelok arah.

Beruntung, Gary Lineker muncul sebagai juru selamat dengan mencetak gol penyeimbang yang memaksa laga berlanjut ke babak perpanjangan waktu.

Skor 1-1 tak berubah, dan pemenang harus ditentukan lewat tos-tosan adu penalti. Di sinilah mental Inggris diuji dan berakhir pilu.

Kegagalan Stuart Pearce dan Chris Waddle dalam mengeksekusi penalti membuat Jerman Barat melenggang dengan kemenangan 4-3.

Langkah anak asuh Bobby Robson yang lesu kemudian ditutup dengan kekalahan 2-1 dari tuan rumah Italia dalam perebutan tempat ketiga.

3. Inggris 2-1 Portugal - Inggris 1966

Dari semua kisah semifinal, memori tahun 1966 di Stadion Wembley adalah satu-satunya lembaran emas yang berhasil diukir Inggris. Di bawah arahan taktis Alf Ramsey, Inggris sukses meredam perlawanan sengit Portugal dengan skor 2-1.

Pahlawan kemenangan malam itu adalah Bobby Charlton yang tampil memukau lewat torehan dua golnya, meski Portugal sempat memperkecil ketertinggalan melalui penalti Eusebio di menit-menit akhir.

Kemenangan solid itu mengantarkan Inggris ke final pertama mereka. Di stadion yang sama, mereka menumbangkan Jerman Barat lewat drama perpanjangan waktu yang legendaris dengan skor 4-2, sekaligus mengangkat Trofi Jules Rimet untuk pertama dan terakhir kalinya sejauh ini.

4. Inggris vs Argentina (15 Juli)

Kini, tepat enam puluh tahun setelah malam bersejarah di London tersebut, Inggris kembali mendapatkan momentum emas untuk menulis ulang takdir mereka.

Tiket semifinal ini tidak didapat dengan mudah. Anak asuh Thomas Tuchel harus memeras keringat hingga babak perpanjangan waktu untuk menyingkirkan Norwegia di perempat final.

Tantangan berikutnya jauh lebih masif. Bertempat di Stadion Atlanta, sang juara bertahan Argentina sudah siap menjegal ambisi Inggris.

Jika berhasil melewati hadangan Tim Tango, Harry Kane dan kolega akan terbang menuju Stadion New York New Jersey untuk menantang pemenang antara Prancis atau Spanyol pada partai final tanggal 19 Juli mendatang.

Sumber: FIFA