Kisah Tukang Pijat yang Menemani Maradona Menciptakan Sejarah
Maradona mencetak "gol tangan tuhan" ke gawang Inggris pada perempat final Piala Dunia 1986 - (foto by FIFA)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Ada pertandingan yang begitu sarat drama sehingga empat dekade pun tak mampu memudarkan gemanya. Salah satunya adalah laga Argentina melawan Inggris di perempat final Piala Dunia 1986.
Setiap kali kedua raksasa ini bertemu, ingatan orang akan selalu kembali ke satu sore di Mexico City, 22 Juni 1986, ketika hampir 120.000 penonton memadati Estadio Azteca. Dan di jantung laga legendaris itu, berdiri sosok yang tak tergantikan: Diego Armando Maradona.
Sore itu melahirkan dua momen yang tercatat abadi dalam sejarah sepak bola: gol kontroversial yang dikenal sebagai "Tangan Tuhan", disusul oleh gol yang kelak dijuluki "Gol Abad Ini" — tercipta setelah Maradona menguasai bola di dekat garis tengah lapangan lalu menggiringnya melewati seluruh pemain bertahan Inggris.
Sebuah pertandingan yang dimainkan di tengah ketegangan besar, namun diselesaikan dengan cara yang begitu epik oleh pria yang oleh Salvatore Carmando disebut sebagai "pemain terhebat sepanjang masa".
Nama Salvatore Carmando mungkin tak dikenal banyak orang. Tetapi bagi Maradona, dialah salah satu sosok terpenting sepanjang kariernya. Selama lebih dari tiga dekade, Carmando menjadi bagian dari staf medis Napoli, dan begitu pentingnya perannya bagi El Pibe de Oro hingga Maradona memutuskan membawanya ke Piala Dunia 1986 sebagai tukang pijat resmi timnas Argentina.
"Pada Januari 1986, Diego berkata kepada saya, 'Siapkan semuanya - kita akan pergi ke Piala Dunia.' Dan kami pun berangkat ke Meksiko bersama-sama. Saya berada di sana selama hampir dua bulan," kenang Carmando dalam sebuah wawancara dengan FIFA.
Maradona memang tak bisa berpisah dari pria yang membantunya pulih secara fisik usai setiap laga, sosok yang turut memungkinkannya tampil sebagai pemain yang hingga kini masih dikenang dunia.
Karena itulah sang bintang asal Argentina memboyong Carmando ke dalam rombongan tim — sebuah keputusan yang secara efektif membawanya pergi jauh dari Italia.
Sejak 1986, Argentina dan Inggris memang sudah dua kali kembali bertemu di panggung Piala Dunia, yakni pada 1998 dan 2002. Namun tak ada yang menandingi bobot historis laga di Atlanta itu, yang membuat pertemuan kali ini terasa begitu istimewa.
"Mungkin sudah 40 tahun yang lalu, tetapi hal-hal seperti itu tidak akan pernah terlupakan," ujar Carmando. "Membayangkan Argentina dan Inggris akan bertemu lagi, sungguh, ini adalah momen bersejarah."
Yang lebih mengejutkan, Maradona rupanya sudah "melihat" semuanya akan terjadi — bahkan memprediksi lebih dulu gol yang kelak disebut "Gol Abad Ini" itu.
"Setelah mencetak gol keduanya, Diego menghampiri saya, memeluk saya dan berkata, 'Sudah kubilang aku akan melakukannya dan aku melakukannya'," tutur Carmando.
"Sebelum pertandingan, dia berkata kepada saya, 'Saya harus mencetak gol yang luar biasa hari ini. Saya tidak tahu persis bagaimana caranya, tetapi entah bagaimana saya harus melakukannya.' Dan itulah yang dia lakukan."
"Jika dia pernah mengatakan akan melakukan sesuatu, dia selalu menepatinya," lanjutnya. "Hal yang sama terjadi sebelum pertandingan Napoli-Juventus, ketika dia mencetak gol indah dari tendangan bebas tidak langsung di dalam kotak penalti."
Lalu bagaimana dengan gol "Tangan Tuhan" yang kontroversial itu? Carmando punya jawaban yang lebih jenaka. "Semua orang bilang dia mencetak gol itu dengan tangannya, tapi itu tidak benar - dia mencetak gol itu dengan kepalanya," katanya sambil tertawa.
Carmando terus mendampingi Maradona sepanjang turnamen, bahkan ikut terbang ke Argentina untuk merayakan kemenangan bersama skuad. Ia masih ingat betul suasana penyambutan itu — "sejuta orang menunggu kami".
Namun dari seluruh kenangan turnamen tersebut, satu benda memiliki tempat paling istimewa di hatinya: replika trofi Piala Dunia. "Sayangnya, trofi itu disimpan di brankas bank, bukan di rumah, jadi saya tidak bisa melihatnya setiap hari, tetapi itu adalah kebanggaan dan kegembiraan saya. Bagi saya, itu mewakili Diego," ucapnya.
Di balik semua kisah dan kenangan itu, ada satu hubungan yang dibangun di atas kasih sayang yang tulus. Dan seperti yang disimpulkan Carmando sendiri, Maradona adalah sosok "orang terbaik di dunia, seorang pria hebat yang telah membantu banyak orang. Pria seperti Diego sudah tidak ada lagi."
Sumber: FIFA
