Aturan Baru Piala Dunia 2026: Jeda Taktis Ilegal Dilarang
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - FIFA mengambil langkah tegas untuk menghentikan taktik "jeda ilegal" dalam pertandingan di Piala Dunia 2026.
Kepala Wasit FIFA, Pierluigi Collina, mengumumkan bahwa para pemain di Piala Dunia 2026 mendatang akan dilarang keras mendatangi area teknis atau bangku cadangan untuk berdiskusi dengan pelatih saat penjaga gawang mereka sedang dirawat karena cedera.
Kebijakan baru ini telah disampaikan langsung kepada para pelatih dari 48 negara peserta dalam sebuah lokakarya resmi.
Menurut Collina, wasit di Piala Dunia nanti akan bertindak lebih proaktif guna mencegah tim memanfaatkan momen cedera kiper sebagai taktik terselubung untuk memutus momentum lawan atau sekadar mencuri waktu istirahat.
"Penjaga gawang tentu berhak mengalami cedera, tetapi para pemain lain tidak berhak meninggalkan lapangan untuk beristirahat sejenak atau menerima instruksi bersama pelatih masing-masing," ujar Collina, dikutip dari ANTARA, Jumat (5/6).
Fenomena ini memang menjadi sorotan tajam dalam beberapa tahun terakhir. Pola yang kerap berulang adalah ketika seorang kiper terjatuh dan meminta bantuan fisioterapis, seluruh pemain di lapangan akan langsung merapat ke pinggir lapangan untuk mendengarkan arahan pelatih. Begitu instruksi taktis selesai diberikan, pertandingan baru dilanjutkan.
Salah satu friksi akibat taktik ini sempat memanas pada November 2025 lalu. Manajer Leeds United, Daniel Farke, sempat melayangkan tudingan keras kepada kiper Manchester City, Gianluigi Donnarumma, yang dianggap sengaja berpura-pura cedera demi mengulur waktu dan merusak ritme permainan timnya.
Guna mengatasi keresahan tersebut, FIFA akhirnya mengadopsi regulasi yang sebelumnya telah diuji coba oleh liga sepak bola wanita profesional Amerika Serikat (NWSL).
Dalam aturan tersebut, ketika kiper sedang dalam penanganan medis, seluruh pemain dari kedua tim diwajibkan untuk tetap berada di posisi masing-masing atau berkumpul di lingkaran tengah lapangan.
Collina menilai kebiasaan seluruh pemain mengosongkan lapangan di tengah laga adalah pemandangan yang aneh dan buruk bagi estetika sepak bola.
Kendati demikian, ia memastikan bahwa wasit tidak akan langsung mengganjar kartu kuning atau hukuman disiplin bagi pemain yang mencoba mendekati pelatih. Fokus utama ofisial pertandingan adalah melakukan pencegahan dan menegakkan aturan tersebut secara persuasif di lapangan.
Langkah revolusioner FIFA di Piala Dunia 2026 ini berjalan beriringan dengan kebijakan International Football Association Board (IFAB). Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional tersebut baru saja menyetujui perubahan protokol Video Assistant Referee (VAR) yang memungkinkan peninjauan pelanggaran dalam fase serangan sebelum bola dimainkan.
Meski IFAB masih meminta sejumlah liga domestik untuk melakukan uji coba lanjutan sepanjang musim 2026–2027 sebelum meresmikannya ke dalam Laws of the Game, FIFA bersikap tegas bahwa aturan pembatasan area teknis ini wajib dipahami dan dipatuhi oleh seluruh kontestan di Piala Dunia nanti.
Walau beberapa pihak menilai taktik merusak momentum lawan masih berpotensi terjadi lewat cara lain, Collina menegaskan bahwa praktik mobilisasi pemain ke pinggir lapangan dipastikan tidak akan lagi ditoleransi.
