Waspada Influenza A, Kasus pada Balita Mendominasi

Ilustrasi - (int)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Temuan influenza di Indonesia meningkat pada pekan pemantauan terbaru, dengan kelompok anak usia 0-4 tahun menjadi salah satu kelompok yang paling banyak terdeteksi positif.

Data Kementerian Kesehatan hingga 19 September 2026 menunjukkan proporsi positif influenza pada minggu ke-36 mencapai 46 persen, naik dari 35 persen pada pekan sebelumnya. 

Dari 185 spesimen yang diperiksa, sebanyak 86 spesimen positif influenza. Rinciannya 76 fluenza-a">influenza A(H1N1)pdm09, delapan A(H3N2), dan dua influenza B Victoria.

Sebanyak 42 persen kasus influenza terdeteksi pada kelompok usia 0-4 tahun.

Meski proporsi positif meningkat, Kemenkes menyatakan tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan masih berada dalam kategori rendah dan situasi nasional terkendali. Data surveilans tersebut juga masih bersifat sementara dan dapat berubah.

Kondisi itu membuat fluenza-a">influenza A kembali menjadi perhatian, terutama karena sebagian besar temuan berasal dari virus fluenza-a">influenza A(H1N1)pdm09. Namun, keberadaan virus tersebut tidak serta-merta menandakan munculnya wabah baru.

fluenza">Influenza A merupakan salah satu kelompok virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), influenza musiman pada manusia paling sering disebabkan virus influenza tipe A dan B.

fluenza">Influenza A kemudian diklasifikasikan berdasarkan dua protein di permukaan virus, yakni hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N). Beberapa subtipe yang beredar pada manusia antara lain A(H1N1)pdm09 dan A(H3N2).

A(H1N1)pdm09 merupakan virus yang menyebabkan pandemi influenza pada 2009. Setelah pandemi berakhir, virus tersebut menjadi bagian dari influenza musiman dan terus beredar pada manusia.

Karena itu, kemunculan nama H1N1 dalam hasil surveilans saat ini tidak berarti pandemi 2009 kembali terjadi. Virus tersebut telah menjadi salah satu virus influenza musiman.

fluenza">Influenza dapat menyebar dengan mudah dari satu orang ke orang lain melalui partikel pernapasan ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Penularan juga lebih mudah terjadi di tempat ramai dan ruang tertutup.

Di negara tropis seperti Indonesia, influenza dapat bersirkulasi sepanjang tahun. WHO mencatat pola influenza di wilayah tropis berbeda dengan negara beriklim sedang yang memiliki musim influenza lebih jelas.

Gejala influenza umumnya muncul secara tiba-tiba. Keluhan yang sering terjadi meliputi demam, batuk, sakit tenggorokan, pilek, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, serta kelelahan.

Batuk dapat bertahan lebih lama dibandingkan gejala lainnya, bahkan hingga dua minggu atau lebih. Sebagian besar orang dapat pulih dalam sekitar satu minggu tanpa memerlukan perawatan khusus.

Meski mayoritas penderita influenza dapat pulih, penyakit ini tetap berpotensi menyebabkan komplikasi serius, terutama pada kelompok rentan.

WHO memasukkan anak berusia di bawah lima tahun, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis atau gangguan kekebalan tubuh sebagai kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami influenza berat.

Komplikasi influenza dapat berupa pneumonia dan, pada kondisi berat, sepsis. Infeksi juga dapat memperburuk penyakit yang sudah dimiliki pasien, seperti asma, penyakit jantung atau penyakit paru.

Karena itu, influenza tidak selalu dapat dianggap sekadar flu ringan. Tingkat keparahannya dipengaruhi usia, kondisi kesehatan dan faktor risiko masing-masing pasien.

Selain H1N1pdm09, Kemenkes juga masih memantau influenza A(H3N2) subclade K. Data terbaru menyebut subclade tersebut tersebar di 13 provinsi, dengan proporsi temuan terbesar berada di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.

Sebelumnya, Kemenkes mencatat H3N2 subclade K pertama kali terdeteksi di Indonesia pada September 2025. Hingga 10 Januari 2026, tercatat 74 kasus di 13 provinsi.

Kemenkes menyatakan mayoritas kasus menunjukkan gejala ringan hingga sedang dan tidak ada bukti bahwa subclade K menyebabkan penyakit yang lebih berat dibandingkan influenza lainnya.

Dengan demikian, penyebutan subclade K tidak otomatis menunjukkan penyakit yang lebih berat. Risiko tetap bergantung pada kondisi individu dan faktor penyerta.

Masyarakat tetap dianjurkan menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker ketika sakit, serta menghindari kontak dekat dengan orang lain saat mengalami gejala influenza.

WHO juga menyebut vaksinasi influenza sebagai cara utama untuk mengurangi risiko influenza dan penyakit berat.

Kemenkes mengimbau masyarakat segera mengakses fasilitas pelayanan kesehatan jika gejala memburuk atau tidak membaik setelah lebih dari tiga hari. 

Khusus anak kecil, lansia, ibu hamil dan orang dengan penyakit penyerta, kewaspadaan perlu ditingkatkan.

Kesulitan bernapas, sesak, nyeri dada, kebingungan, dehidrasi, tubuh sangat lemas atau kondisi yang sempat membaik kemudian kembali memburuk merupakan tanda yang memerlukan perhatian medis.