Home > PSM
Stadion Untia - (ist)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Juara bertahan dua kali Liga Indonesia, tujuh gelar nasional, dan klub tertua di Tanah Air. Namun PSM Makassar hingga kini belum punya kandang sendiri. Dua stadion sedang disiapkan, tetapi keduanya belum bisa dipakai.

Stadion Sudiang di sisi timur kota ditargetkan rampung pada 2027. Proyek ini dibiayai APBN dan dikerjakan Kementerian PU, dengan kapasitas 27 ribu penonton berkursi tunggal.

Di sisi utara, Pemkot Makassar menyiapkan Stadion Untia dengan anggaran Rp350 miliar, dan pembangunannya disebut tidak lama lagi dimulai. Bila berjalan sesuai rencana, Juku Eja tak lagi harus menjadi musafir.

Kerinduan itu bermula dari hilangnya Stadion Mattoanging. Rencana renovasi senilai Rp1,4 triliun diapungkan pada 2020 dan menjadi akhir nasib stadion tersebut.

Harapan akan stadion megah sempat membuncah, tetapi hingga kini belum terwujud. Gelar juara terakhir PSM, pada musim 2022/2023, pun diraih tanpa Mattoanging, yang sudah rata dengan tanah.

Saat itu PSM berkandang di Stadion BJ Habibie, Parepare, dan tidak terkalahkan di laga kandang sepanjang musim.

Mattoanging dibangun pada 6 Juli 1957 untuk menyambut PON IV. Sejak itu PSM menjadikannya markas, setelah sebelumnya bermain di lapangan terbuka di sebelah timur stadion.

Berkapasitas 15.000 penonton, Mattoanging melahirkan sepak bola khas Makassar yakni agresif, keras, tanpa kompromi, dan pantang menyerah, dengan semboyan "bola boleh lewat, asal orangnya jangan lewat".

Dari kandang inilah nama-nama besar muncul, dan yang paling harum adalah Andi Ramang. Di Olimpiade Melbourne 1956, penyerang PSM itu membuat Uni Soviet bermain imbang 0-0, dan hanya kiper legendaris Lev Yashin yang menyelamatkan gawang mereka.

Penampilan itu membuat FIFA menjulukinya si Kancil dan Kurcaci Monsters. Dua hari kemudian, pada laga ulangan, Soviet menerapkan taktik mematikan untuk Ramang dan Indonesia kalah 0-4.

Dua tahun berselang, gol-gol krusialnya membawa Indonesia unggul agregat 4-3 atas China dan selangkah lagi lolos ke Piala Dunia 1958, tetapi Indonesia memilih mundur karena menolak melawan Israel.

Dalam tur Asia, 19 dari 25 gol Indonesia lahir dari kakinya. Dari sosoknya, PSM dijuluki Pasukan Ramang.

Kejayaan itu tercatat panjang. Berdiri resmi pada 2 November 1915 sebagai Macassaarsche Voetbalbond (MVB), klub ini berganti nama menjadi PSM pada era 1940-an.

Juku Eja, atau Ikan Merah, meraih lima gelar Perserikatan (1957, 1959, 1965, 1966, 1992) dan dua gelar Liga Indonesia (1999/2000 dan 2022/2023).

Gelar 1999/2000 menjadi puncak era Mattoanging. Di bawah manajer kakak-adik Nurdin Halid dan Kadir Halid, PSM menurunkan skuad bertabur bintang.

Kurniawan Dwi Yulianto dan Miro Baldo Bento di depan, Bima Sakti (pemain terbaik musim itu) dan Carlos de Mello di tengah, serta kiper terbaik Hendro Kartiko dengan bek Aji Santoso, Ronny Ririn, Yeyen Tumena, dan Ortizan Solossa.

PSM menyapu bersih tiga laga babak delapan besar, menyingkirkan Persija Jakarta lewat gol tunggal Miro di semifinal, lalu melibas PKT Bontang 3-2 di final dengan dua gol Kurniawan.

Kini, ketika kandang baru ada di depan mata, yang dinanti publik Makassar adalah stadion yang benar-benar berdiri.

Memang bukan Mattoanging dan bukan pula lapangan tempat Andi Ramang menari, tetapi sebuah rumah bagi PSM.