Home > PSM

Rasyid Bakri, Sang Penjaga Simpul Setia Pasukan Ramang

Rasyid Bakri - (foto by @rasyid_bakri17/instagram)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di tengah industri sepak bola modern di mana pemain datang dan pergi demi nilai kontrak yang lebih tinggi, sosok Rasyid Bakri berdiri tegak sebagai anomali.

Di Stadion BJ Habibie atau dalam riuhnya dukungan pada sesi latihan di Stadion Kalegowa, ia bukan sekadar gelandang. Ia adalah monumen hidup kesetiaan PSM Makassar.

Bagi publik sepak bola Sulawesi Selatan, Rasyid adalah "Sang Pangeran". Sejak memulai debut profesionalnya belasan tahun silam, pemain kelahiran Layang, Makassar ini tak pernah berpaling. Warna merah jersey Juku Eja sudah seperti kulit kedua baginya.

Rasyid mungkin bukan lagi pemain yang selalu tampil 90 menit di setiap pertandingan. Namun, peran pria yang akrab disapa Achi ini jauh melampaui statistik di atas rumput.

Di ruang ganti, ia adalah jembatan. Ia adalah sosok yang membisikkan filosofi Siri' na Pacce kepada para pemain asing dan pemain muda yang baru menginjakkan kaki di tanah Daeng.

Kesetiaan Rasyid diuji bukan saat PSM sedang berjaya, melainkan saat badai menerpa. Ia ada di sana saat PSM berjuang di papan bawah, saat krisis finansial sempat menghimpit klub, hingga akhirnya ia turut mengangkat trofi juara Liga 1 yang sangat dinanti selama 23 tahun.

Air mata yang tumpah saat PSM memastikan gelar juara musim 2022/2023 lalu adalah bukti sahih. Itu bukan sekadar tangis kemenangan, tapi tangis kelegaan seorang anak daerah yang berhasil menjaga marwah tim kebanggaannya hingga ke puncak tertinggi.

Di era di mana loyalitas sering kali dianggap kuno, Rasyid Bakri membuktikan bahwa ada sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan rupiah, Respek.

Meski tawaran dari klub-klub besar dengan iming-iming gaji fantastis kerap menghampiri, Rasyid tetap memilih pulang ke rumah yang sama. Baginya, melihat logo Pinisi di dada tetap tegak adalah misi hidup yang belum usai.

Hingga hari ini, saat ia masuk ke lapangan sebagai pemain pengganti sekalipun, riuh tepuk tangan penonton selalu terasa berbeda.

Ada rasa hormat yang mendalam untuk sang penjaga kesetiaan. Rasyid Bakri adalah pengingat bagi kita semua, bahwa di sepak bola, cinta pada klub masih bisa lebih besar daripada angka di atas kertas kontrak.

Meski kini usianya telah menginjak 35 tahun, Rasyid tetap menjadi bagian penting dari skema pelatih. Statistik menit bermainnya mungkin mulai berkurang seiring rotasi pemain muda, namun statistik "kehadirannya" sebagai pemimpin di ruang ganti tetap tak tergantikan.

Bagi suporter, angka 17 di punggung Rasyid bukan sekadar nomor, melainkan simbol bahwa di Makassar, kesetiaan masih memiliki rumah yang nyaman.

Hingga tuntasnya pekan ke-25 Super League 2025/26, jejak langkah Rasyid Bakri telah terpatri dalam 171 pertandingan di berbagai ajang.

Selama 8.629 menit mendedikasikan diri di lapangan, 'Sang Pangeran' telah menyumbangkan sembilan gol bagi Juku Eja.

Jika menoleh ke belakang, memori terbaiknya tercipta pada musim ISC A 2016; saat itu, performa gemilangnya dengan koleksi 7 gol dan 8 assist menempatkan namanya dalam jajaran Best XI.

Profil Rasyid Bakri

Nama Lengkap: Rasyid Assyahid Bakri

Tanggal Lahir: 17 Januari 1991 (35 Tahun)

Posisi: Gelandang Tengah / Gelandang Bertahan

Tinggi Badan: 164 cm

Nomor Punggung: 17

Bergabung Sejak: 1 Juli 2011 (Pemain terlama di skuad saat ini)

Prestasi

- Juara Liga 1:l 2022/23

- Juara Piala Indonesia 2018/19

- Runner-up Liga 1 2018

- Best XI Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016

Karir Internasional

- Timnas Senior: 5-7 Caps (Debut 2012)

- Timnas U-23: Bagian dari skuad perak Islamic Solidarity Games 2013 dan Asian Games 2014.