Update Bencana Sumatra: 149 Puskemas Rusak Berat Mulai Beroperasi
Puskesmas Lokop, Kabupaten Aceh Timur. (Foto by: Dinkes Aceh Timur)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Penanganan bencana di wilayah Sumatra masuk dalam tahapan lanjutan dengan memprioritaskan pemulihan layanan kesehatan primer.
Fokus utama diarahkan pada puskesmas yang terdampak, menyusul pulihnya sebagian besar fasilitas layanan rujukan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa pemulihan puskesmas menjadi tantangan tersendiri karena jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan rumah sakit.
Berdasarkan hasil pendataan Kementerian Kesehatan, tercatat 867 puskesmas terdampak bencana di tiga provinsi. Dari jumlah tersebut, 152 puskesmas mengalami kerusakan berat sehingga harus menghentikan operasional untuk sementara waktu.
Upaya pemulihan dilakukan secara bertahap, mulai dari pembersihan puing, pengalihan layanan ke lokasi sementara, hingga pembangunan ulang bagi fasilitas yang mengalami kerusakan total.
Hingga awal Januari 2026, sebagian besar puskesmas telah kembali memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
“Sampai awal Januari 2026, tinggal tiga (puskesmas) lagi yang belum bisa beroperasi,” kata Menkes Budi, dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI, Kamis (8/1).
Adapun tiga puskesmas yang masih dalam tahap pemulihan tersebut adalah Puskesmas Rusip Antara di Aceh Tengah, Puskesmas Jambur Lak Lak di Aceh Tenggara, serta Puskesmas Lokop di Aceh Timur. Menurut Menkes, kerusakan terparah terjadi di Puskesmas Lokop.
“Yang (di) Lokop ini benar-benar sudah hancur, jadi sekarang sedang kita bangun baru,” ujarnya.
Untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses layanan kesehatan, Kementerian Kesehatan mengalihkan operasional puskesmas yang rusak ke gedung-gedung alternatif, seperti kantor dinas maupun fasilitas pemerintah setempat.
Menkes menegaskan bahwa puskesmas memiliki peran krusial, tidak hanya sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan harian, tetapi juga dalam penanganan ratusan ribu pengungsi yang tersebar di lebih dari seribu titik pengungsian di wilayah terdampak bencana.
