Pemkot Makassar Mulai Bangun Urban Farming Terintegrasi 2026

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mulai merealisasikan pembangunan kawasan urban farming terintegrasi sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat perkotaan.

Melalui Dinas Perikanan dan Pertanian (DP2), Pemkot Makassar menargetkan pembangunan dua unit urban farming yang berlokasi di Kecamatan Tamalate dan Kecamatan Biringkanaya, dalam kawasan Edukasi Farming (Edufam). Per Januari 2026, proyek ini telah memasuki tahap perencanaan dan pengadaan.

Kepala Dinas DP2 Kota Makassar, Aulia Arsyad, mengatakan tahapan awal pembangunan Edufam resmi masuk ke proses pengadaan melalui Unit Layanan Pengadaan (ULP).

“Perencanaan ini, kami perkirakan memakan waktu sekitar 1 sampai 2 bulan, mulai dari proses di ULP hingga pemilihan konsultan,” jelas Aulia, Jumat (9/1/2026).

Ia menambahkan, pekerjaan fisik ditargetkan mulai berjalan pada Maret 2026.

“Setelah itu, sekitar bulan Maret, kita mulai masuk ke pekerjaan fisik,” sambungnya.

Tahap awal pembangunan difokuskan pada penimbunan lahan di kawasan Barombong dan lanjutan penimbunan di Sudiang. Aulia menyebutkan, penimbunan di Sudiang sebelumnya telah dilakukan sebagian melalui anggaran perubahan dan akan dilanjutkan pada anggaran pokok tahun berjalan.

Setelah proses penimbunan rampung, pembangunan fisik akan dilaksanakan secara bertahap dan terintegrasi.

“Rencana Edufam, di Barombong dan Edufam Sudiang. Di lokasi ini semua kegiatan terintegrasi, mulai dari kebun pertanian, peternakan ayam, budidaya jamur, budidaya maggot, sampai dengan pengolahan sampah,” tutur Aulia.

Menurutnya, konsep Edufam tidak hanya berorientasi pada produksi pangan, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan percontohan pertanian, perikanan, dan peternakan yang adaptif dengan kondisi perkotaan.

Pengembangan kawasan Edufam melibatkan lima Organisasi Perangkat Daerah (OPD) secara lintas sektor, yakni DP2, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pekerjaan Umum (PU), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan Dinas Perhubungan.

Aulia menjelaskan, Dinas PU bertanggung jawab pada pembangunan jalan dan infrastruktur pendukung, sementara Dinas Perhubungan menangani penerangan dan kelistrikan kawasan.

“Sementara Dinas Ketahanan Pangan membangun cold storage untuk penyimpanan hasil panen Kelompok Wanita Tani (KWT) dan kelompok tani,” jelasnya.

“DP2 fokus pada pengembangan pertanian, perikanan, dan peternakan, serta DLH mendukung pengelolaan lingkungan dan sistem pengolahan sampah terpadu,” lanjut Aulia.

Ia menegaskan, pada 2026, urban farming terintegrasi menjadi program unggulan DP2 Makassar, di samping program strategis lain seperti penanganan stunting dan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan).

“Khusus di Edufam Barombong, luas lahannya mencapai ribuan meter persegi dan menjadi lokasi yang paling luas dibandingkan kawasan Edufam lainnya,” terangnya.

Melalui program Edufam, Pemkot Makassar berharap dapat memperkuat ketahanan pangan daerah, meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat, serta menjadikan urban farming sebagai pusat edukasi pertanian dan perikanan berbasis perkotaan yang berkelanjutan.

Di tengah keterbatasan lahan dan meningkatnya kebutuhan pangan kota, Pemkot Makassar juga mendorong pembiayaan dan pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian, perikanan, dan peternakan melalui DP2.

Program urban farming terintegrasi ini menyasar kelompok tani, nelayan, dan Kelompok Wanita Tani (KWT) di 15 kecamatan.

“Untuk kelompok wanita tani, bantuannya beragam. Mulai dari bibit tanaman buah, benih, hingga pengembangan peternakan ayam petelur dan budidaya ikan air tawar,” ungkap Aulia.

Saat ini, dari total 348 KWT, tercatat 266 KWT masih aktif dan berpotensi menerima bantuan. Proses verifikasi dilakukan untuk memastikan kesiapan dan kelayakan kelompok penerima.

“Penilaiannya juga tergantung proposal yang mereka ajukan,” katanya.

Setiap proposal akan ditindaklanjuti melalui survei lapangan guna memastikan kesesuaian bantuan.

“Misalnya mereka mengajukan kandang ayam dan ayamnya, kami cek dulu apakah memang mereka layak dan mampu mengelola peternakan tersebut,” tambahnya.

DP2 Makassar mendorong konsep urban farming terpadu, yang mencakup pertanian, perikanan, peternakan, budidaya maggot, hingga jamur, dengan penerapan yang disesuaikan kondisi wilayah.

“Seperti di Kecamatan Wajo, pekarangan rumah warga relatif terbatas. Jadi kami arahkan ke budidaya jamur dan budidaya maggot yang tidak membutuhkan lahan luas,” tutup Aulia.