‘Godzilla’ El Nino Ancam Indonesia: Kemarau Ekstrem hingga Risiko Karhutla
Ilustrasi kekeringan - (foto by pixabay)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Fenomena iklim ekstrem yang dijuluki “Godzilla” El Nino diperkirakan akan memicu peningkatan suhu dan kemarau panjang di Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berpotensi menimbulkan berbagai dampak lingkungan hingga ekonomi.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa Indonesia berpotensi mengalami kombinasi fenomena El Nino kuat bersama Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada 2026. Perpaduan keduanya dinilai mampu memperparah kondisi musim kemarau.
"Godzilla' El Niño + IOD Positif, kedengarannya keren, tapi dampaknya enggak main-main. Kemarau bisa jadi lebih panjang, lebih kering, dan hujan makin jarang turun di Indonesia. Awan pun lebih banyak 'nongkrong' di Pasifik sedangkan kita kebagian panasnya aja," tulis BRIN dalam unggahan resminya di Instagram, dikutip Jumat (27/3).
El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah ekuator Samudra Pasifik. Dampaknya, distribusi hujan berubah dan wilayah seperti Indonesia cenderung mengalami penurunan curah hujan.
Istilah “Godzilla” digunakan untuk menggambarkan El Nino dengan intensitas sangat kuat, yang efeknya jauh lebih signifikan dibandingkan kondisi normal.
BRIN memproyeksikan fenomena ini mulai berkembang sejak April 2026 dan semakin menguat seiring munculnya IOD positif.
Mengutip CNN, ketika fenomena El Nino dan IOD Positif terjadi bersamaan, pembentukan awan akan lebih terkonsentrasi di Samudra Pasifik. Akibatnya, wilayah Indonesia mengalami kekurangan awan dan hujan.
Selain itu, IOD positif menyebabkan pendinginan suhu laut di sekitar Sumatra dan Jawa, yang semakin mengurangi potensi hujan di wilayah tersebut.
Periode April hingga Oktober 2026 diprediksi menjadi fase paling krusial, terutama bagi wilayah selatan Indonesia seperti Jawa hingga Nusa Tenggara Timur yang berpotensi mengalami kemarau kering.
Sebaliknya, wilayah timur seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera justru diperkirakan tetap menerima curah hujan tinggi.
Dampak fenomena ini tidak merata, namun tetap membawa risiko serius. Salah satu yang paling disorot adalah ancaman terhadap lumbung pada nasional.
Selain itu, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga meningkat di beberapa wilayah Sumatra dan Kalimantan, meskipun bagian utara kedua pulau tersebut masih berpeluang mengalami hujan.
Di sisi lain, wilayah timur Indonesia berisiko menghadapi banjir dan longsor akibat curah hujan tinggi selama musim kemarau.
Sementara lembaga meteorologi Eropa, ECMWF, turut mengeluarkan proyeksi terbaru terkait perkembangan El Nino. Berdasarkan model mereka, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik diprediksi meningkat tajam dalam enam bulan ke depan.
Kondisi ini memperkuat kemungkinan terbentuknya El Nino pada Agustus 2026. Probabilitasnya cukup tinggi, dengan peluang 22 persen untuk kategori super, 80 persen kuat, dan 98 persen moderat.
Meski membawa risiko, fenomena ini juga membuka peluang. BRIN menyarankan optimalisasi produksi garam di wilayah selatan Indonesia untuk mendukung target swasembada garam pada 2026–2027.
Langkah strategis dan mitigasi yang tepat dinilai menjadi kunci agar dampak negatif dapat ditekan, sekaligus memanfaatkan potensi yang muncul dari kondisi iklim ekstrem ini.
