Waspada El Nino, Ini 5 Cara Halau Panas Ekstrem

Ilustrasi - (foto by freepik)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar -  Para ilmuwan mengungkap temuan baru terkait perubahan pola di Samudra Pasifik yang berpotensi memicu peristiwa El Nino pada 2026. 

Perubahan ini dinilai tidak biasa karena menunjukkan intensitas yang lebih kuat dibandingkan siklus sebelumnya.

Secara berkala, Samudra Pasifik memang memengaruhi pola cuaca global, mulai dari perubahan curah hujan hingga gangguan ekosistem laut. Namun kali ini, peneliti menemukan konfigurasi suhu laut yang berbeda dari biasanya, demikian mengutip CNBC Indonesia, Rabu (29/4). 

Terdapat tiga wilayah perairan hangat yang muncul secara bersamaan di Pasifik tropis yakni di sekitar Indonesia, lepas pantai Amerika Tengah, dan sepanjang pesisir Amerika Selatan. 

Ketiganya membentuk pola melingkar yang mengapit area tengah yang lebih dingin.

Fenomena ini dikenal sebagai annular warming, sebuah pola yang jarang terjadi dan belum pernah tercatat dengan kekuatan serupa dalam empat dekade terakhir. Bahkan, El Nino ekstrem sebelumnya tidak menunjukkan struktur seperti ini.

Selain pemanasan di permukaan, ilmuwan juga mendeteksi adanya akumulasi panas dalam jumlah besar di bawah permukaan laut. Energi tersebut dinilai dapat memperkuat intensitas El Nino yang akan datang.

"Pasifik tropis menunjukkan pola pemanasan annular yang tidak biasa pada musim semi 2026, yang merupakan yang terbesar dalam 40 tahun terakhir. Lapisan atas samudra juga menyimpan lebih banyak panas daripada yang dilepaskannya," kata Tao Lian, penulis utama studi tersebut, dikutip dari laman Earth.

"Kami menunjukkan dalam serangkaian eksperimen model bahwa kandungan panas saat ini cukup untuk menghasilkan peristiwa El Niño moderat menjelang akhir 2026, dan pemanasan annular yang saat ini kami amati di Pasifik dapat meningkatkan El Nino ini ke kategori super," lanjutnya.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dalam laman resminya, El Nino adalah pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak luas pada pola iklim global. 

Di Indonesia, kondisi ini sering dikaitkan dengan kekeringan dan suhu panas yang meningkat.

Kondisi panas ekstrem dapat berdampak langsung pada kesehatan. Mulai dari dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga heatstroke yang berisiko serius jika tidak segera ditangani.

Tak hanya itu, sektor pertanian dan lingkungan juga rentan terdampak. Kekeringan berkepanjangan dapat memicu krisis air bersih, menurunkan hasil panen, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan.

Mengutip laman World Health Organization menjelaskan suhu tinggi dapat memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan pekerja luar ruangan.

Sementara menrut Kementerian Kesehatan yang dikutip dalam laman resminya cuaca panas ekstrem dapat membahayakan kesehatan, mulai dari dehidrasi dan iritasi kulit hingga kondisi fatal seperti heat stroke yang berisiko merusak organ tubuh dan menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat

Berikut cara mengurangi risiko dampak cuaca panas yang disebabkan El Nino:

1. Minum lebih sering, bukan hanya saat haus

Rasa haus adalah sinyal terlambat dari tubuh. Saat Anda merasa haus, tubuh sebenarnya sudah mulai kekurangan cairan. Minum secara berkala (setiap 1–2 jam) membantu menjaga keseimbangan cairan dan mencegah dehidrasi sejak dini.

2. Konsumsi makanan tinggi air

Buah seperti semangka, melon, jeruk, dan timun mengandung banyak air serta elektrolit alami. Ini membantu menggantikan cairan tubuh sekaligus memberi nutrisi penting, terutama saat tubuh kehilangan banyak cairan karena keringat.

3. Jangan tinggalkan anak atau hewan di dalam kendaraan tertutup

Meninggalkan anak atau hewan di dalam kendaraan yang tertutup sangat berbahaya, bahkan bisa berakibat fatal dalam waktu singkat. Anak kecil dan hewan tidak bisa mendinginkan tubuh seefektif orang dewasa.

4. Siapkan cadangan air di rumah

El Nino bisa menyebabkan kekeringan dan gangguan pasokan air. Menyimpan cadangan air penting untuk memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi, baik untuk minum, memasak, maupun kebersihan.

5. Pantau kelompok rentan di sekitar Anda

Lansia, anak-anak, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu lebih rentan terhadap panas ekstrem. Mereka membutuhkan perhatian ekstra, seperti memastikan cukup minum, berada di tempat sejuk, dan tidak kelelahan.