Munafri Perkuat Pertanian Makassar Hadapi Musim Kemarau
CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Pemerintah Kota Makassar memperkuat sektor pertanian untuk menghadapi keterbatasan lahan dan ancaman perubahan iklim. Dukungan sarana produksi, teknologi pertanian, greenhouse, hingga urban farming disiapkan untuk menjaga produktivitas sekaligus ketahanan pangan.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi menyampaikan hal itu saat menghadiri Musyawarah Tani "Abbulo Sibatang" yang digelar Kelompok Tani Bontoa di Jalan Andi Patturungi, Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Kamis (20/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang komunikasi antara pemerintah dan kelompok tani untuk membahas persoalan pertanian sekaligus merumuskan solusi.
"Hari ini, kita bisa melaksanakan kegiatan yang melibatkan kelompok tani yang ada di seluruh Kota Makassar," kata Munafri.
Dalam kegiatan itu, Pemkot Makassar menyalurkan 2.000 liter pupuk organik cair, 2.365 kilogram benih padi sebar, lima kultivator, 20 hand sprayer elektrik, serta dua pompa air pinggang 3 inch.
Munafri mengatakan bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga aktivitas pertanian di tengah musim kering dan kondisi cuaca yang tidak menentu. Menurutnya, persoalan air kini menjadi salah satu tantangan utama bagi petani sekaligus masyarakat.
"Karena itu, pemerintah Kota memastikan berbagai kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi, termasuk memberikan dukungan agar aktivitas pertanian tetap berjalan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu," terangnya.
Keterbatasan lahan membuat Makassar tidak dapat sepenuhnya mengandalkan pola pertanian konvensional. Karena itu Pemerintah kota mulai mendorong pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas lahan yang tersedia.
"Dengan lahan yang tidak tersedia dalam jumlah besar, kita berharap pembangunan ke depan menggunakan teknologi-teknologi pertanian," jelasnya.
Salah satu program yang disiapkan adalah pembangunan greenhouse berbasis Internet of Things (IoT). Teknologi tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan produksi tanaman terhadap kondisi cuaca.
Selain greenhouse, produktivitas sawah tetap menjadi perhatian. Pemkot Makassar mendorong peningkatan indeks pertanaman agar lahan yang tersedia dapat menghasilkan lebih banyak produksi.
Munafri mencontohkan lahan sekitar 20 hektare yang telah memasuki musim tanam kedua. Lahan tersebut dinilai berpotensi dikembangkan hingga tiga kali tanam dalam setahun.
"Ini kan musim tanam kedua, mereka sudah bisa panen. Luasannya kurang lebih 20 hektare. Kemudian bisa tiga kali tanam. Ini sangat luar biasa," katanya.
Setiap hektare lahan tersebut diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 6 hingga 7 ton padi. Karena itu, penggunaan teknologi dinilai penting untuk meningkatkan hasil sekaligus menjaga produktivitas petani.
Munafri menilai penguatan pertanian memiliki hubungan langsung dengan ketahanan pangan dan pengendalian inflasi. Sebagai kota metropolitan, Makassar masih bergantung pada pasokan pangan dari daerah lain.
Namun, ketergantungan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan memproduksi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri.
"Kalau ketahanan pangan tidak bisa terjaga, inflasi kita pasti akan sangat tinggi. Maka dari itu, kita tidak boleh tergantung sepenuhnya dari daerah-daerah penghasil," tegasnya.
Pemkot Makassar juga mendorong pengembangan urban farming untuk memanfaatkan lahan-lahan sempit. Konsep tersebut diarahkan agar berjalan bersama teknologi pertanian dan pengelolaan lingkungan.
"Harus ada sinkronisasi sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan pertanian lahan sempit atau urban farming," saran Appi.
Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Makassar diminta mengawal program tersebut bersama kelompok tani dan masyarakat. Pemerintah juga menekankan pentingnya pendampingan agar bantuan teknologi benar-benar dapat digunakan petani.
Selain meningkatkan produksi, hasil pertanian diharapkan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik sehingga berdampak pada kesejahteraan petani.
