Karhutla dan Kekeringan, MUI Ajak Warga Shalat Istisqa
Petugas memedamkan api kebakaran hutan di Riau - (foto by Antara)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak umat Islam di berbagai daerah untuk melaksanakan Shalat Istisqa sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan di tengah kemarau dan kekeringan yang masih melanda sejumlah wilayah Indonesia.
lAjakan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum MUI Cholil Nafis. Ia berharap doa bersama dapat menjadi bagian dari upaya menghadapi kondisi kekeringan sekaligus mendorong berakhirnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah provinsi.
"Kemarau dan kekeringan melanda kita, bahkan karhutla masih terus terjadi. Mari doakan mudah-mudahan segera turun hujan di Indonesia, di tempat-tempat kemarau dan kebakaran. Bahkan kami mengajak umat untuk Shalat Istisqa (minta hujan)," ujar Wakil Ketua Umum MUI Cholil Nafis dalam keterangannya dikutip dari Antara, Jumat (4/9).
Menurut Cholil, Shalat Istisqa merupakan salah satu bentuk ikhtiar spiritual umat Islam ketika menghadapi kekeringan berkepanjangan. Pelaksanaan ibadah tersebut juga menjadi wujud kepasrahan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala (SWT) setelah berbagai usaha dilakukan untuk mengatasi dampak kemarau.
Ia menilai penanganan kekeringan dan karhutla tidak hanya membutuhkan langkah teknis di lapangan. Upaya pemerintah, petugas pemadam kebakaran, serta masyarakat perlu berjalan beriringan dengan doa dan ikhtiar spiritual.
Kondisi kemarau panjang turut menimbulkan persoalan di sejumlah daerah. Ketersediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari menjadi salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat, sementara titik panas atau hotspot di kawasan hutan juga masih muncul.
Asap akibat karhutla berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi warga yang berada di sekitar wilayah terdampak.
Karena itu, Cholil berharap pengurus masjid, lembaga keagamaan, dan masyarakat di daerah yang mengalami kekeringan maupun dampak karhutla dapat mengoordinasikan pelaksanaan Shalat Istisqa secara berjamaah.
Hingga hari ini pemerintah masih memantau perkembangan karhutla di sejumlah wilayah. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebelumnya menyebut adanya peningkatan kembali titik panas di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng).
Kenaikan hotspot tersebut membuat kedua provinsi itu kembali menjadi perhatian utama dalam penanganan karhutla secara nasional. Pemerintah sebelumnya mencatat tren titik panas di enam provinsi prioritas sempat mengalami penurunan.
"Setelah kemarin semua enam provinsi yang prioritas trennya turun, namun hari ini Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menunjukkan kembali hotspot yang meningkat. Artinya, prioritas utama sekarang ini secara nasional tetap Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah," kata Menhut Raja Antoni, dikutip dari Antara.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa ancaman karhutla masih perlu diwaspadai, khususnya ketika kondisi cuaca kering berlangsung di sejumlah daerah.
