Sinergi Pemkot Apindo, 350 Sekolah Jadi Pusat Pilah Sampah

CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Pemerintah Kota Makassar menggandeng kalangan dunia usaha untuk memperkuat gerakan pengelolaan sampah dari sumbernya. 

Salah satu langkah yang disiapkan  menjadikan sekitar 350 sekolah sebagai pusat edukasi dan pengumpulan sampah plastik guna membangun budaya pilah sampah sejak usia dini.

Gagasan tersebut disampaikan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, saat menerima audiensi pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sulawesi Selatan di Balai Kota Makassar, Kamis (11/6/2026).

Dalam pertemuan itu, Munafri menekankan persoalan sampah dan lingkungan hidup tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah. 

Keterlibatan sektor swasta menjadi faktor penting untuk mempercepat perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.

"Sehingga dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen, termasuk dunia usaha, untuk membangun budaya pengelolaan sampah yang dimulai dari sumbernya," ujar Munafri.

Pemkot Makassar saat ini tengah mengembangkan sejumlah program lingkungan, mulai dari urban farming, komposter, Teba Modern hingga penguatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R). 

Namun, pemerintah menilai kolaborasi dengan pelaku usaha akan memperluas dampak program yang telah berjalan.

Salah satu bentuk kerja sama yang ditawarkan adalah penyediaan fasilitas penampungan sampah plastik di lingkungan sekolah. 

Program tersebut dinilai realistis diterapkan di sekitar 300 Sekolah Dasar (SD) dan 50 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tersebar di Kota Makassar.

Melalui fasilitas tersebut, sampah plastik seperti botol minuman dan kemasan sekali pakai dapat dikumpulkan secara terpisah sebelum masuk ke sistem pengolahan yang telah disiapkan pemerintah.

"Kita bisa siapkan tempat-tempat penampungan sampah plastik di lingkungan sekolah. Anak-anak kita ajarkan sejak dini untuk memilah sampah. Ini menjadi investasi budaya yang sangat penting untuk masa depan kota," katanya.

Munafri menilai sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk kebiasaan baru masyarakat. Edukasi yang dimulai dari peserta didik diharapkan mampu menular ke lingkungan keluarga dan permukiman sehingga gerakan pengurangan sampah dapat berjalan lebih efektif.

Selain itu, ia mendorong APINDO Sulsel menjadi pelopor organisasi usaha yang aktif mendukung agenda lingkungan hidup. Menurutnya, dukungan terhadap gerakan lingkungan tidak selalu membutuhkan anggaran besar, tetapi lebih pada komitmen dan konsistensi dalam menjalankan program yang berdampak.

Keterlibatan dunia usaha juga dinilai sejalan dengan penguatan konsep green economy dan blue economy yang kini menjadi perhatian berbagai negara. Karena itu, Pemkot Makassar ingin membangun model kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dalam pengelolaan lingkungan 

Komitmen tersebut sekaligus menjadi bagian dari persiapan Makassar sebagai tuan rumah Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 yang akan berlangsung pada 23 hingga 25 Juni mendatang. Agenda yang diinisiasi Kementerian Luar Negeri itu dijadwalkan dihadiri sekitar 32 duta besar dari berbagai negara.

Menurut Munafri, momentum internasional tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk mempromosikan potensi investasi dan perdagangan daerah, tetapi juga memperlihatkan praktik baik pengelolaan lingkungan yang berkembang di tengah masyarakat.

"Yang kita bangun bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi gerakan bersama yang memberikan dampak nyata," kata Appi.

Melalui kolaborasi dengan APINDO, Pemerintah Kota Makassar berharap gerakan pilah sampah dapat berkembang menjadi budaya baru di lingkungan sekolah dan masyarakat. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan kota yang lebih bersih, berkelanjutan, dan ramah lingkungan melalui keterlibatan seluruh elemen pembangunan.