Melinda Aksa Bagikan Strategi Makassar Bebas Sampah di Apeksi
CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar, Melinda Aksa membagikan pengalaman Kota Makassar dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan dalam Ladies Program yang menjadi rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) 2026 di Gedung Warenhuis, Medan, Rabu (1/7/2026).
Kegiatan bertema Perempuan Tangguh Penuh Percaya Diri itu menghadirkan para Ketua PKK dari berbagai daerah untuk berbagi pengalaman, inovasi, dan praktik terbaik dalam mendukung pembangunan di masing-masing kota
Dalam sesi berbagi pengetahuan tersebut, Melinda memaparkan strategi pengelolaan sampah yang diterapkan Pemerintah Kota Makassar melalui pendekatan menyeluruh, mulai dari sumber sampah hingga proses akhir pengelolaannya.
Sebelum digalakkan program pengelolaan sampah, kondisi persampahan di Makassar berada dalam fase darurat dengan estimasi timbunan mencapai 1.000 hingga 1.200 ton per hari. Sementara kapasitas angkutan armada yang terbatas baru mampu menjangkau 67% sampah warga.
Kondisi TPA Tamangapa (Antang) juga berstatus kritis akibat penumpukan dan metode open dumping yang tidak memadai. Karena itu saat ini tengah metode open dumping diubah menjadi sanitary landfill (menimbun sampah di area cekung).
Kondisi persampahan inilah yang membuat Melinda gencar menggalakkan barbagai program pengelolaan sampah.
Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi fondasi utama keberhasilan program pengelolaan sampah. Pemilahan sampah sejak dari rumah dinilai mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
"Kalau di hulu masyarakat belum mampu memilah sampah dan mengubah kebiasaan, maka TPA akan terus terbebani oleh sampah yang sebenarnya sudah tidak boleh lagi berakhir di sana. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam pengelolaan sampah," ujar Melinda.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kota Makassar bersama Tim Penggerak PKK terus memperkuat edukasi kepada masyarakat hingga tingkat RT dan RW sebagai bagian dari upaya mewujudkan target Makassar Bebas Sampah 2029.
PKK Kota Makassar juga berperan sebagai mitra strategis pemerintah melalui berbagai program yang mendukung gerakan tersebut. Salah satunya dilakukan bersama Pokja Bunda PAUD dengan mengenalkan pengelolaan sampah kepada anak-anak dan keluarga agar kepedulian terhadap lingkungan tumbuh sejak usia dini.
Selain itu, edukasi pengelolaan sampah diintegrasikan dalam sejumlah program, seperti PKK Goes to School, PKK Borong Mangan, dan Program Hatinya PKK yang dijalankan Pokja III.
Melalui program tersebut, sampah organik hasil pemilahan diolah menjadi kompos untuk kebutuhan kebun Hatinya PKK. Hasil panen kemudian dimanfaatkan atau dipasarkan oleh kader PKK sehingga menciptakan nilai ekonomi sekaligus mengurangi timbulan sampah.
"Pengelolaan sampah bukan hanya tentang menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga bagaimana memberikan manfaat bagi masyarakat. Ketika sampah diolah menjadi kompos, dimanfaatkan untuk kebun, lalu hasilnya memiliki nilai ekonomi, maka di situlah tercipta gerakan yang berkelanjutan," ungkap Melinda.
Melinda menilai keberhasilan pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Karena itu, keluarga menjadi titik awal untuk membangun budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan.
"Perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam pengelolaan sampah."
Melalui forum nasional tersebut, ia berharap praktik baik yang diterapkan Kota Makassar dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah lain dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat.
