Rupiah Masih Tertekan Dolar AS, Diproyeksi Bergerak Rp17.700–Rp17.850

Ilustrasi - (foto by freepik)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Pelaku pasar mencermati perkembangan kebijakan The Federal Reserve (The Fed) serta menunggu keputusan Bank Indonesia (BI) pada pekan depan.

Berdasarkan data TradingView, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.850 per dolar AS, Jumat (18/9).

Pada perdagangan Kamis (17/9), rupiah ditutup melemah 0,32% atau 57 poin ke level Rp17.753 per dolar AS. 

Tekanan terhadap rupiah sejalan dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia yang juga melemah terhadap dolar AS.

Won Korea Selatan menjadi salah satu mata uang yang mengalami pelemahan cukup dalam, yakni 0,61%. Selanjutnya, ringgit Malaysia melemah 0,54%, dolar Taiwan turun 0,27%, peso Filipina terkoreksi 0,02%, dan dolar Hong Kong melemah 0,01%.

Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia masih mampu menguat. Yen Jepang tercatat naik 0,30% terhadap dolar AS, diikuti dolar Singapura yang menguat 0,13%. Rupee India dan baht Thailand masing-masing naik 0,05%, sedangkan yuan China menguat 0,01%.

Pergerakan mata uang kawasan tersebut turut dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter Amerika Serikat. The Fed pada September 2026 mengambil keputusan suku bunga yang menjadi perhatian pelaku pasar global.

Perubahan kebijakan The Fed berpotensi memengaruhi arus modal dan pergerakan dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Karena itu, pasar kini mengalihkan perhatian ke keputusan Bank Indonesia. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026.

Sebelumnya, BI mempertahankan BI-Rate pada level 5,75%. Kebijakan tersebut antara lain diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.

Keputusan The Fed membuat ruang gerak BI menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar. Investor akan mencermati langkah BI dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah perubahan kondisi pasar keuangan global.