Harga Minyak Mentah Bergejolak
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Seperti diprakirakan banyak
kalangan, harga minyak mentah bakal bergejolak setelah pecahnya perang Israel -
Amerika Serikat melawan Iran.
Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada perdagangan
Selasa (3/3), menandai tren kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut di tengah
meluasnya perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Konflik yang dipicu serangan provokasi AS dan Israel ke Iran
ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent tercatat
berada di level US$78,83 per barel, naik US$1,10 atau 1,4 persen.
Sehari sebelumnya, Brent bahkan sempat menyentuh US$82,37
per barel, level tertinggi sejak Januari 2025, sebelum akhirnya ditutup menguat
6,7 persen.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI)
Amerika Serikat naik 74 sen atau 1 persen menjadi US$71,97 per barel. Pada sesi
sebelumnya, WTI sempat mencapai level tertinggi sejak Juni 2025 sebelum ditutup
naik 6,3 persen.
Lonjakan harga terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran
pasar setelah jalur vital distribusi energi global dari Timur Tengah, yakni
Selat Hormuz, ditutup.
Seorang komandan senior dari Garda Revolusi Iran mengatakan
Senin bahwa Selat Hormuz telah ditutup. Ia bahkan memperingatkan, setiap kapal
yang mencoba melintasi jalur air tersebut akan menjadi sasaran.
Mengutip CNBC International, fokus utama pelaku pasar
tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia
dengan Laut Arab.
Selat Hormuz berada di pintu keluar Teluk Persia. Jalur ini
menghubungkan ekspor minyak dan gas alam cair Timur Tengah ke pasar global
melalui Teluk Oman dan Samudra Hindia. Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian
dunia, atau sekitar 20 juta barel, melintasi koridor ini.
Harga minyak mentah naik pada Selasa (Rabu waktu
Jakarta) dalam perdagangan setelah jam kerja reguler, setelah Presides Donald
Trump mengatakan AS akan memberikan jaminan kepada kapal tanker di Teluk
Persia untuk melancarkan lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz.
Namun harga minyak turun secara signifikan pada perdagangan
sore hari setelah Trump berupaya meyakinkan pemilik kapal bahwa mereka dapat
dengan aman melintasi Selat Hormuz. Harga minyak mentah AS naik lebih dari 2%,
sementara harga minyak Brent naik 3% setelah pengumuman presiden tersebut.
Trump mengatakan bahwa US Development Finance Corporation
akan menyediakan, dengan harga yang sangat wajar, asuransi risiko politik dan
jaminan untuk keamanan keuangan seluruh perdagangan maritim melalui Teluk.
“Jika perlu, Angkatan Laut Amerika Serikat akan mulai
mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz sesegera mungkin,” kata Trump dalam
sebuah unggahan di media sosial.
Lalu lintas kapal tanker melalui Selat tersebut terhenti
total karena pemilik kapal mengambil tindakan pencegahan karena khawatir mereka
dapat menjadi sasaran serangan balasan dari Iran.
Militer AS sedang mempertimbangkan untuk menempatkan
personel bersenjata di kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, dalam
tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang bertujuan untuk menghentikan
Iran dari menyita dan mengganggu kapal-kapal sipil.
Selat Hormuz merupakan titik rawan terpenting untuk pengiriman
minyak di dunia. Sekitar 20% konsumsi minyak mentah global diekspor melalui
jalur air ini, terutama ke pelanggan di China, India, Jepang, dan Korea
Selatan.
Para ahli strategi komoditas Wall Street telah
memperingatkan bahwa harga minyak dapat melonjak di atas USD 100 per barel jika
Selat tersebut ditutup untuk jangka waktu yang lama.
Trump mengatakan pada Selasa pagi bahwa perang dengan Iran
mungkin akan mengakibatkan harga minyak sedikit tinggi untuk sementara waktu
tetapi memperkirakan harga akan turun setelah konflik berakhir.
