Aset Perbankan Sulsel Tumbuh 5,99%, Kredit Produktif Penopang
Media briefing pertumbuhan ekonomi Sulsel, Senin (3/8) - (foto by Rini)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan hingga Semester I 2026 masih menunjukkan tren positif.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat mencatat pertumbuhan aset perbankan, penghimpunan dana masyarakat, hingga penyaluran kredit tetap meningkat di tengah perlambatan laju ekonomi daerah.
Data OJK menunjukkan aset perbankan Sulawesi Selatan tumbuh 5,99 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5,71 persen, sedangkan penyaluran kredit tumbuh 5,27 persen.
Kepala OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, mengatakan pertumbuhan tersebut menandakan kondisi industri jasa keuangan masih sehat dan tetap mendukung aktivitas ekonomi.
"Pertumbuhan sektor jasa keuangan masih positif. Kredit produktif masih lebih besar dibanding kredit konsumtif sehingga pembiayaan tetap banyak mengalir ke sektor-sektor produktif," ujar Muchlasin dalam media briefing di Makassar, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, komposisi DPK masih didominasi tabungan sebesar Rp92,3 triliun atau sekitar 51 persen dari total simpanan masyarakat. Adapun deposito menyumbang sekitar 22 persen, sedangkan giro sekitar 15 persen.
Dari sisi pembiayaan, kredit produktif masih menjadi motor utama dengan pangsa sekitar 52 persen dari total portofolio kredit.
Pembiayaan tersebut terutama mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran, pertanian, perburuan, kehutanan dan perikanan, akomodasi dan penyediaan makan minum, serta real estate.
Secara umum, pertumbuhan perbankan yang tetap positif menjadi salah satu indikator bahwa aktivitas ekonomi di Sulawesi Selatan masih bergerak.
Ketika aset perbankan, dana masyarakat, dan penyaluran kredit sama-sama meningkat, hal itu menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan tetap terjaga dan fungsi intermediasi berjalan dengan baik.
Kondisi tersebut semakin kuat karena pertumbuhan kredit lebih banyak disalurkan ke sektor produktif dibanding konsumtif. Artinya, pembiayaan lebih banyak digunakan untuk mendukung kegiatan usaha, investasi, perdagangan, pertanian, hingga sektor jasa yang mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Meski demikian, pertumbuhan sektor jasa keuangan yang sedikit berada di bawah laju pertumbuhan ekonomi daerah menunjukkan masih terdapat ruang bagi perbankan untuk meningkatkan ekspansi pembiayaan, terutama kepada pelaku usaha produktif, termasuk UMKM. Dengan kualitas kredit yang tetap terjaga, peningkatan intermediasi perbankan berpotensi memperkuat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada semester berikutnya.
