Harga Minyak Dunia Terkoreksi 5% Usai Sentimen Damai AS–Iran
Ilustrasi kilang minyak - (foto by freepik)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Harga minyak mentah global mengalami penurunan tajam pada awal pekan setelah pasar merespons kabar kemajuan perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Sentimen ini langsung menekan harga kontrak berjangka minyak di perdagangan Minggu malam (24/5).
Mengutip Antara, Senin (25/6), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli 2026 sempat turun signifikan sebesar 5,35 dolar AS atau 5,53 persen, hingga berada di level 91,25 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Juli juga ikut terkoreksi sebesar 5,57 dolar AS atau 5,38 persen, dengan posisi terendah di 97,97 dolar AS per barel.
Penurunan ini mencerminkan reaksi cepat pasar terhadap potensi meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (23/5) menyampaikan bahwa pembicaraan damai dengan Iran telah berada pada tahap lanjut.
Ia menyebut bahwa proses tersebut “sebagian besar telah dinegosiasikan”, dan saat ini hanya menunggu finalisasi antara AS, Iran, serta sejumlah pihak terkait di Timur Tengah.
Sementara Menurut laporan Axios, draf kesepakatan yang tengah dibahas mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Dalam periode tersebut, Selat Hormuz disebut akan kembali dibuka, Iran dapat menjual minyak secara lebih bebas, serta negosiasi lanjutan mengenai pembatasan program nuklir akan dilakukan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menegaskan kesiapan Washington untuk melanjutkan dialog serius terkait program nuklir Iran.
Namun ia menekankan bahwa langkah tersebut sangat bergantung pada kesediaan Iran membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak terpenting dunia.
Di sisi lain, laporan dari Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyebutkan bahwa 33 kapal telah melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir setelah mendapatkan koordinasi dan izin.
Hal ini menunjukkan adanya aktivitas awal normalisasi di jalur pelayaran strategis tersebut, meski situasi masih dinamis.
Meski harga minyak terkoreksi, sejumlah analis menilai risiko gangguan pasokan belum sepenuhnya hilang.
Ekonom komoditas Capital Economics, Hamad Hussain, mengingatkan bahwa pemulihan produksi energi ke level sebelum konflik tidak akan terjadi dalam waktu singkat.
Ia menyoroti potensi hambatan seperti kerusakan fasilitas produksi, terganggunya distribusi, serta risiko pelayaran di Selat Hormuz.
Menurutnya, harga minyak kemungkinan masih akan bertahan tinggi dalam jangka pendek dan baru berpotensi menurun signifikan ketika keseimbangan pasokan dan permintaan membaik, yang diperkirakan terjadi pada pertengahan hingga akhir 2027.
Sumber: Antara/Xinhua
