Purbaya: APBN Masih Kuat Tahan Lonjakan Harga Minyak Dunia
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa - (foto by Antara)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Pemerintah memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih cukup kuat untuk menahan dampak kenaikan harga minyak dunia.
Langkah ini dilakukan agar masyarakat tidak langsung merasakan dampaknya melalui kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah saat ini masih menyerap kenaikan biaya energi yang terjadi di pasar global.
Kebijakan tersebut membuat harga BBM di dalam negeri tetap stabil meskipun harga minyak dunia mengalami peningkatan.
“Di luar tidak ada gejolak berarti kan sekarang? Karena pemerintah meng-absorb kenaikan biayanya,” kata Purbaya di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, dikutip Antara, Senin (16/3).
Menurutnya, pemerintah tidak memiliki rencana untuk menaikkan harga BBM subsidi dalam waktu dekat. Kebijakan fiskal memang dirancang sebagai instrumen penahan gejolak ekonomi global, termasuk saat harga minyak dunia melonjak.
Ia menjelaskan bahwa jika kenaikan harga minyak langsung diteruskan ke harga BBM domestik, maka dampaknya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menekan daya beli masyarakat.
Purbaya menilai kemampuan APBN untuk menanggung lonjakan biaya energi masih cukup pada kondisi saat ini. Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai potensi kenaikan harga minyak dunia yang lebih tinggi karena sifatnya yang fluktuatif.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan harga minyak mencapai 150 dolar AS per barel, ia menilai lonjakan tersebut tidak akan berlangsung lama.
“Tidak apa-apa (kalau harga minyak ke level 150 dolar AS per barel), kita pasti selamat. Kita tidak akan hancur. Kenapa? Tidak akan lama ke 150 dolar. Karena semuanya akan resesi. Sehabis itu jatuh dalam sekali,” katanya.
Ia mencontohkan pengalaman sebelumnya ketika harga minyak dunia sempat melonjak hingga sekitar 150 dolar AS per barel sebelum akhirnya turun tajam.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian global sulit bertahan dalam jangka panjang dengan harga energi yang terlalu tinggi.
Purbaya juga menilai produsen minyak dunia pada akhirnya tidak akan membiarkan harga energi melonjak terlalu lama. Jika harga terlalu tinggi, permintaan energi global justru berpotensi turun akibat perlambatan ekonomi.
Situasi tersebut pada akhirnya dapat merugikan negara maupun perusahaan produsen minyak sendiri.
Meski kondisi fiskal saat ini masih aman, pemerintah tetap menyiapkan berbagai langkah antisipasi apabila harga minyak dunia terus meningkat dalam jangka waktu panjang.
Penyesuaian kebijakan anggaran bisa dilakukan untuk meminimalkan dampak terhadap perekonomian domestik.
Saat ditanya mengenai kemungkinan penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) untuk memperlebar defisit anggaran, Purbaya menegaskan langkah tersebut belum menjadi pembahasan.
Menurutnya, evaluasi baru akan dilakukan jika harga minyak tinggi bertahan dalam waktu lama.
“Itu belum kelihatan sampai sekarang, karena anggarannya kan masih aman. Kalau harga minyak tinggi terus dan bertahan lama, baru kita akan hitung ulang seperti apa kondisi anggarannya. Tapi tidak langsung Perppu,” kata Purbaya.
Dengan kondisi APBN yang masih kuat, pemerintah optimistis gejolak harga energi global dapat diredam sehingga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
