APBN Dipastikan Aman Meski Harga Minyak Dekati 100 Dollar AS

Ilustrasi kilang minyak - (foto by pixabay)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa lonjakan harga minyak dunia yang sempat mendekati 100 dolar AS per barel tidak akan mengguncang stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya saat mengungkap percakapannya dengan Presiden Prabowo Subianto terkait kekhawatiran dampak kenaikan harga minyak terhadap kondisi fiskal nasional.

“Presiden nanya ‘Gimana APBN?’. Saya jawab, ‘Aman Pak!',” ujar Purbaya di Jakarta, dikutip Antara, Jumat (27/3).

Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga minyak yang lebih tinggi. 

Langkah mitigasi pun telah dirancang secara matang guna menjaga stabilitas APBN di tengah tekanan global, khususnya dari sektor energi.

Purbaya mengakui bahwa strategi tersebut belum sepenuhnya tersampaikan kepada publik. Oleh karena itu, pemerintah akan memperkuat komunikasi agar masyarakat memahami kondisi fiskal secara lebih transparan.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tetap tenang dalam menghadapi dinamika ekonomi global, meskipun pembahasan di tingkat internal berlangsung intens.

“Tidak ada angka-angka yang aneh dan tidak bisa dihitung dalam APBN saat ini,” tambahnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan sejumlah skenario terkait dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap APBN.

Dalam skenario pertama, harga Indonesian Crude Price (ICP) diperkirakan berada di kisaran 86 dolar AS per barel, dengan nilai tukar rupiah melemah ke sekitar Rp17.000 per dolar AS. 

Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,3 persen dan imbal hasil surat berharga negara (SBN) sebesar 6,8 persen, defisit APBN diperkirakan mencapai 3,18 persen.

Pada skenario moderat, harga minyak diproyeksikan naik ke 97 dolar AS per barel dengan kurs rupiah sekitar Rp17.300 per dolar AS. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan 5,2 persen dan imbal hasil SBN 7,2 persen, sehingga defisit berpotensi meningkat menjadi 3,53 persen.

Adapun dalam skenario pesimistis, harga minyak dapat menembus 115 dolar AS per barel, dengan nilai tukar rupiah melemah hingga Rp17.500 per dolar AS. 

Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 5,2 persen dan imbal hasil SBN 7,2 persen, sehingga defisit APBN berpotensi melebar hingga 4,06 persen.