Daya Beli Petani Sulsel Menguat, NTP Naik Jadi 118,80

Ilustrasi - (foto by freepik)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Kinerja ekonomi petani di Sulawesi Selatan menunjukkan perbaikan pada Juni 2026. 

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) gabungan mencapai 118,80, meningkat 0,42 persen dibandingkan Mei 2026 yang berada di angka 118,30.

Kenaikan tersebut menjadi sinyal positif bagi sektor pertanian karena menunjukkan pendapatan yang diterima petani tumbuh lebih cepat dibandingkan kenaikan pengeluaran mereka, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun biaya produksi.

Peningkatan NTP dipicu oleh naiknya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,94 persen, dari 147,97 menjadi 149,36. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) juga meningkat, namun hanya sebesar 0,51 persen, dari 125,08 menjadi 125,73.

Secara sederhana, kondisi tersebut mencerminkan bahwa hasil penjualan komoditas pertanian memberikan tambahan pendapatan yang lebih besar dibandingkan kenaikan biaya yang harus dikeluarkan petani selama Juni 2026.

Data BPS juga menunjukkan tidak semua subsektor menikmati kondisi yang sama. Subsektor hortikultura mencatat peningkatan NTP paling tinggi, yakni 4,57 persen, disusul tanaman perkebunan rakyat yang naik 2,21 persen serta subsektor perikanan yang bertambah 0,27 persen.

Sebaliknya, dua subsektor justru mengalami tekanan. NTP tanaman pangan turun 0,20 persen, sedangkan peternakan mengalami penurunan paling besar, yakni 2,53 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Secara rinci, NTP masing-masing subsektor pada Juni 2026 terdiri atas tanaman pangan sebesar 112,84, hortikultura 150,74, tanaman perkebunan rakyat 134,69, peternakan 106,28, dan perikanan 121,21.

Khusus pada sisi penerimaan petani, harga hasil produksi mengalami kenaikan di hampir seluruh subsektor. Indeks harga yang diterima petani meningkat pada tanaman pangan sebesar 0,32 persen, hortikultura 5,05 persen, tanaman perkebunan rakyat 2,73 persen, dan perikanan 0,88 persen. Hanya subsektor peternakan yang mengalami penurunan indeks harga diterima sebesar 2,13 persen.

Di sisi lain, biaya yang harus ditanggung petani masih terus meningkat. Seluruh subsektor mencatat kenaikan indeks harga yang dibayar, mulai dari tanaman pangan 0,52 persen, hortikultura 0,46 persen, tanaman perkebunan rakyat 0,52 persen, peternakan 0,42 persen, hingga perikanan 0,61 persen.

Kenaikan NTP menjadi indikator bahwa kondisi ekonomi petani Sulawesi Selatan secara umum bergerak ke arah yang lebih baik. Sebab, semakin tinggi NTP, semakin besar pula kemampuan petani memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga sekaligus membiayai aktivitas usaha taninya.

Meski demikian, perbaikan tersebut belum dirasakan secara merata. Petani hortikultura dan perkebunan rakyat memperoleh manfaat paling besar dari kenaikan harga komoditas di pasar sehingga pendapatan mereka meningkat lebih cepat dibandingkan biaya produksi.

Berbeda dengan itu, petani tanaman pangan masih menghadapi tantangan karena kenaikan biaya operasional belum sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan harga jual hasil panen. 

Kondisi yang lebih berat dialami pelaku usaha peternakan, di mana penurunan harga hasil usaha terjadi saat biaya produksi tetap mengalami kenaikan. Situasi tersebut berpotensi menekan margin keuntungan peternak apabila berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.