Siapa Hertasning? Tokoh di Balik Nama Jalan Tersibuk

Letjen Hertasning - (int)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Bagi pengendara di Makassar, Jalan Letjen Hertasning adalah rutinitas harian, mulai dari macet jam sibuk sampai tambalan aspal yang tak kunjung tuntas.

Padahal nama jalan yang menghubungkan Makassar dengan Gowa itu menyimpan kisah seorang putra daerah yang menapaki jalur panjang dari kampung di pinggiran kota hingga kursi diplomat.

"Hertasning" ternyata bukan nama utuh, melainkan singkatan. Nama sebenarnya adalah Haeruddin Tasning, lalu dipendekkan menjadi HerTasning. Seperti kebanyakan orang Makassar, ia juga bergelar daeng, yakni Daeng Toro'.

Ia lahir pada 19 Desember 1922 sebagai putra kedua pasangan H. Tasning Daeng Muntu dan Hj. Bonto Daeng Kunjung.

Masa kecilnya dihabiskan di Parangtambung, Makassar. Ia mulai bersekolah di SD Jongaya pada 1929, lalu melanjutkan ke MULO, sekolah menengah bentukan pemerintah kolonial Belanda.

Sebagian sumber mencatat kelahirannya di Taeng, Pallangga, Gowa, kampung tempat keluarganya kemudian menetap.

Setamat MULO pada 1942, ia merantau ke Bogor untuk kuliah di Landbouw School, cikal bakal Institut Pertanian Bogor.

Ia bercita-cita memajukan pertanian di kampung halaman, tetapi rencana itu kandas oleh kedatangan tentara Jepang ke Hindia Belanda. Perang dan revolusi lalu membelokkan jalan hidupnya ke dunia militer.

Sepak terjangnya dalam perjuangan bersama TNI dan APRIS di Makassar pascakemerdekaan membuat Mayor Jenderal A.H. Nasution melantiknya sebagai anggota TNI.

Setelah Konferensi Meja Bundar 1949, kariernya menanjak. Ia memimpin CPM Kodam VII Wirabuana di Manado pada 1951–1953, lalu di Makassar pada 1953–1955.

Pada 1957–1959 ia menjabat Kepala Staf Kodam Sulawesi Selatan dan Tenggara, yang kini menjadi Kodam XIV/Hasanuddin.

Ia kemudian menempuh pendidikan militer di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat, pada 1959–1960, lalu menjadi atase pertahanan Indonesia di Kairo, Mesir, pada 1960–1962.

Di penghujung kariernya, ia beralih ke diplomasi. Hertasning menjadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura yang kesembilan pada 1976–1978.

Di luar seragam, ia seorang kepala keluarga. Ia menikah pada 1948 dan dikaruniai empat anak.

Perjalanan itu berakhir tragis. Hertasning meninggal dalam kecelakaan helikopter di kawasan Bedugul, Bali, saat menjalankan tugas kenegaraan.

Putranya, Anto, yang mendampinginya, ikut tewas. Tanggal wafatnya dicatat 1 Juli 1978 di sejumlah sumber, sementara sumber lain menyebut akhir Juni 1978.

Usianya 56 tahun, dan pangkatnya dinaikkan secara anumerta dari mayor jenderal menjadi letnan jenderal.

Namanya kini diabadikan pada salah satu jalan utama Makassar. Ruas itu berbatasan langsung dengan Jalan AP Pettarani dan Jalan Tun Abdul Razak.

Setiap hari ribuan kendaraan melintas di atasnya, sebagian besar tanpa tahu siapa pemilik nama tersebut.