Kepala Intelijen IRGC Majid Khademi Tewas dalam Serangan AS-Israel

Kepala organisasi intelijen Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Majid Khademi - (foto by wikimedia commons/ khamenei.ir)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Kepala organisasi intelijen Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Majid Khademi, dilaporkan tewas dalam serangan yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pernyataan resminya, IRGC mengonfirmasi kabar tersebut dan menyebut serangan itu sebagai bagian dari konflik dengan AS dan Israel.

"Kepala organisasi intelijen IRGC, Majid Khademi, meninggal pagi ini akibat serangan Amerika-Zionis selama perang ketiga yang dipaksakan," kata IRGC dalam sebuah pernyataan pada Senin (6/4), dikutip kantor berita Fars.

Menanggapi kejadian ini, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa kematian Khademi justru mencerminkan kegagalan pihak lawan di medan pertempuran.

Gugurnya Khademi, menurutnya, tidak akan melemahkan kekuatan militer Iran.

"Pembunuhan dan kejahatan tidak dapat menggoyahkan cita-cita tanpa pamrih," ujar Khamenei dalam sebuah pesan resmi.

Ia juga menambahkan bahwa Amerika Serikat dan Israel telah mengalami berbagai kekalahan dalam konflik yang berlangsung.

"AS dan Israel telah mengalami serangkaian kekalahan dalam perang yang dipaksakan kepada bangsa Iran, dan telah gagal menjalankan rencana jahat mereka," lanjutnya.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan keras yang semakin memperkeruh situasi.

Dalam konferensi pers di Gedung Putih  Senin (6/4), Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk menghancurkan Iran dalam waktu singkat.

"Seluruh negara (Iran) dapat dihancurkan dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam," kata Trump.

Sebelumnya, pada 30 Maret, Trump juga sempat menyampaikan ancaman serupa. Ia menyebut Washington siap mengambil langkah ekstrem terhadap infrastruktur vital Iran jika tidak tercapai kesepakatan damai, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz.

"Meledakkan dan melenyapkan sepenuhnya" pembangkit listrik, sumur minyak, Pulau Kharg, serta fasilitas desalinasi Iran menjadi bagian dari ancaman tersebut.