Ekonomi Global Terancam, IMF: Perang Timur Tengah Picu Krisis Energi
International Monetary Fund (IMF) - (foto by Antara/Anadolu)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Konflik di Timur Tengah kembali memberikan tekanan besar terhadap ekonomi global.
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF), Kristalina Georgieva, menyebut kondisi ini sebagai ujian baru bagi ekonomi dunia.
"Ekonomi dunia yang tangguh sedang kembali diuji oleh perang yang kini sedang mendera Timur Tengah. Konflik tersebut telah menyebabkan kesulitan besar di seluruh dunia," kata Georgieva.
Salah satu dampak utama dari konflik ini adalah terganggunya pasokan energi global. Distribusi minyak dilaporkan turun hingga 13 persen, sementara pasokan gas alam cair (LNG) berkurang sekitar 20 persen per hari. Penurunan ini membuat distribusi energi menjadi tidak stabil.
Gangguan tersebut juga berpotensi menyebabkan penutupan kilang minyak, serta memicu krisis bahan bakar dan pangan di berbagai negara. Kondisi ini bisa berdampak langsung pada kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Sebagai peringatan, karena ini adalah guncangan negatif terhadap pasokan, maka penyesuaian permintaan tidak dapat dihindari,” tutur Georgieva.
Konflik Timur Tengah meningkat setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Iran kemudian melakukan balasan dengan menyerang wilayah Israel serta beberapa fasilitas militer AS, dan sempat membatasi lalu lintas di Selat Hormuz.
Pembatasan tersebut menyebabkan gangguan besar pada pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak serta gas di berbagai negara.
Sempat dikabarkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat selama dua pekan, Selat Hormuz pun dibuka kembali.
Namun baru hitungan jam gencatan senjata berlangsung, konflik Timur Tengah kembali memanas, setelah Israel yang merupakan sekutu Amerika Serikat menyerang Lebanon.
Meskipun gencatan senjata menjadi langkah positif, para ekonom menilai dampak konflik ini masih akan terasa dalam waktu dekat, terutama terhadap harga energi dan stabilitas ekonomi global.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti/Antara
