Gelombang Panas Ekstrem Terjang Eropa hingga Asia

Suasana siang hari di Korea Selatan yang sedang dilanda panas ekstrem - (foto by Xinhua/Antara)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Gelombang panas kembali melanda sejumlah negara di Eropa, Asia, dan Amerika Utara dalam beberapa pekan terakhir. 

Suhu ekstrem tidak hanya meningkatkan risiko gangguan kesehatan, tetapi juga memicu kebakaran hutan, kekeringan, hingga gangguan pasokan air dan listrik.

Mengutip Reuters, Selasa (4/8), Italia menetapkan status siaga merah di seluruh kota besar setelah gelombang panas keempat musim panas tahun ini mendorong suhu di sejumlah wilayah mencapai sekitar 40 derajat Celsius. 

Otoritas kesehatan mengimbau masyarakat menghindari paparan sinar matahari pada siang hari dan memperbanyak konsumsi cairan.

Di Prancis, kondisi serupa juga terjadi.  Badan Meteorologi Prancis (Météo-France) menyebut Juli 2026 menjadi bulan terpanas sejak pencatatan cuaca dimulai. Suhu tinggi yang berkepanjangan turut meningkatkan risiko kebakaran hutan di sejumlah wilayah.

Sementara Associated Press (AP), Rabu (5/8), melaporkan kebakaran hutan masih terjadi di Prancis dan Yunani akibat kombinasi cuaca panas, angin kencang, dan minimnya curah hujan. Di Inggris, kekeringan yang berkepanjangan mulai memengaruhi pasokan air dan aktivitas pertanian di sejumlah daerah.

Di kawasan Asia, Reuters dalam laporannya pada 31 Juli menyebut Korea Selatan mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah pengamatan modern setelah temperatur di Kota Yangsan mencapai 41,4 derajat Celsius. 

Mengutip Antara, Rabu (5/8), Seoul, ibu kota Korea Selatan (Korsel), menetapkan peringatan gelombang panas tingkat tertinggi seiring bertambahnya korban dan kerusakan pertanian di seluruh negeri.

Badan Meteorologi Korea memperluas peringatan gelombang panas serius, atau level peringatan gelombang panas tertinggi, hingga wilayah timur laut dan barat laut Seoul pada pagi hari.

Sementara itu, Al Jazeera pada 3 Agustus melaporkan gelombang panas juga berdampak pada sejumlah negara Eropa lainnya, termasuk Spanyol dan Portugal. Kondisi tersebut memperparah kekeringan serta meningkatkan ancaman kebakaran hutan selama musim panas.

Fenomena ini sejalan dengan analisis Copernicus Climate Change Service (C3S). Dalam laporan yang dirilis pada 9 Juli 2026, lembaga pemantau iklim Uni Eropa itu menyatakan Juni 2026 menjadi salah satu periode terpanas yang pernah tercatat di Eropa Barat. 

Gelombang panas yang terjadi selama beberapa pekan turut memecahkan sejumlah rekor suhu harian di berbagai negara.

Selain itu, Associated Press dalam laporan analisis iklimnya mengutip sejumlah ilmuwan yang menyebut perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca membuat gelombang panas menjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih intens dibandingkan beberapa dekade lalu. 

Kondisi tersebut diperkirakan akan meningkatkan risiko kebakaran hutan, krisis air, serta gangguan kesehatan masyarakat apabila tren pemanasan global terus berlanjut.

Sumber: Reuters/Antara/Al Jazeera/ C3S/ AP News