Cerita Perempuan Gaza Hidupkan Tradisi Lebaran di Tengah Reruntuhan

Sejumlah warga Muslim di Gaza menjalankan salat di luar masjid yang telah hancur (foto by AP Photo/)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di antara deretan tenda lusuh yang berdiri di kawasan Al-Mawasi, Khan Younis, kehidupan berjalan dalam ritme yang tak mereka pilih. 

Panas, sempit, dan serba terbatas, namun di sanalah harapan tetap dijaga, meski hanya dalam bentuk sederhana.

Para perempuan pengungsi Palestina perlahan menghidupkan suasana yang hampir hilang, semangat menyambut Idul Fitri. 

Menjelang hari raya, tenda-tenda kecil berubah fungsi menjadi dapur darurat. Di atas meja kayu sederhana, mereka mulai membuat kue khas Lebaran seperti ka’ak dan ma’amoul, juga feseekh (ikan asin). 

Bagi mereka, membuat kue bukan hanya soal makanan. Ini adalah cara menjaga tradisi, merawat kenangan, dan menegaskan bahwa kehidupan belum sepenuhnya hilang.

Namun di balik semua itu, realitas tetap membayangi. Harga bahan baku melonjak tajam, akses logistik terbatas, dan sebagian besar dari sekitar 2,2 juta warga Gaza telah kehilangan hampir seluruh yang mereka miliki sejak konflik berkecamuk.

Di salah satu tenda, Noura Abu Odeh (35) bekerja bersama perempuan lain. Mereka duduk berdekatan, membagi tugas tanpa banyak bicara, ada yang menguleni, ada yang membentuk adonan dengan cekatan.

Bagi Noura, pekerjaan ini memiliki makna lebih dalam. 

“Ini bukan hanya soal kue, ini tentang membuat anak-anak kami tetap merasakan bahwa Idul Fitri masih ada," katanya mengutip Spirit of Aqsa.

Aktivitas itu Noura lakukan di tengah harga tepung, gula, dan kurma melonjak hingga tingkat yang “nyaris tak masuk akal”. 

Cerita lain datang dari Jawaher Hammouda (39), ibu lima anak yang kini tinggal di pusat penampungan. Rumahnya hancur akibat perang, dan usaha suaminya ikut hilang tanpa sisa.

Di ruang kelas yang disulap menjadi tempat tinggal, Hammouda memproduksi feseekh. Ia mengandalkan keahliannya mengolah ikan asin, tradisi yang biasa hadir saat Idul Fitri di Gaza.

Namun kini, ia hanya bisa menggunakan ikan beku yang jumlahnya terbatas dan harganya jauh lebih mahal dibanding sebelumnya.

Pembatasan di wilayah laut selama beberapa tahun terakhir membuat nelayan Gaza kesulitan melaut. Ikan segar menjadi barang langka, bahkan hampir tak terjangkau bagi sebagian besar warga.

Meski biaya produksi meningkat tajam, Hammouda tetap bertahan. Selain membuat feseekh, ia juga menjahit untuk menambah penghasilan keluarga.

“Saya tidak akan menyerah. Keluarga saya layak diperjuangkan,” jelasnya.

Apa yang dilakukan Noura dan Hammouda bukanlah kisah tunggal. Di berbagai titik pengungsian di Gaza, banyak perempuan lain melakukan hal serupa—membangun ruang kerja kecil, menjaga tradisi, dan menghadirkan makna hari raya di tengah keterbatasan.