Harga Bensin di Jepang Terus Naik Dipicu Konflik Timur Tengah

Ilustrasi - (foto by pixabay)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Harga rata-rata bensin di Jepang terus mengalami kenaikan dan kini mencapai 161,80 yen per liter atau sekitar Rp17.230. 

Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya harga minyak mentah dunia yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Berdasarkan data pemerintah Jepang, harga rata-rata bensin meningkat 3,30 yen sejak 2 Maret. Kenaikan ini diperkirakan masih akan berlanjut dan bahkan berpotensi menembus 180 yen per liter pada pekan depan.

Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang pada Rabu (11/3) menyebut kenaikan tersebut telah terjadi selama empat pekan berturut-turut. Tren kenaikan bahkan sudah berlangsung sebelum serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari yang memicu lonjakan harga minyak global.

Pusat Informasi Minyak Jepang yang mengumpulkan data harga energi juga memproyeksikan kenaikan lebih lanjut. Lembaga tersebut memperkirakan harga bensin bisa naik sekitar 20 yen lagi pekan depan, seiring ketegangan di Timur Tengah yang masih berlangsung.

Kenaikan harga energi ini menjadi tantangan bagi pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang tengah berupaya menekan inflasi domestik.

Sebelumnya, setelah berakhirnya pajak bensin sementara pada Desember, harga BBM sempat berada pada level terendah dalam lebih dari empat tahun.

Pada pertengahan Januari, harga bensin tercatat 154,70 yen per liter, yang turut membantu menurunkan inflasi nasional menjadi 2,0 persen, level terendah dalam dua tahun.

Selain bensin, kementerian juga mencatat harga solar dan minyak tanah turut mengalami kenaikan di berbagai wilayah Jepang pada awal pekan ini.

Sementara itu di Indonesia, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tetap stabil hingga Lebaran 2026.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah telah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan terkait kebijakan subsidi energi.

"Menyangkut subsidi BBM sampai dengan hari raya Insya Allah tidak ada kenaikan apa-apa," ucap Bahlil, Selasa (10/3).

Pernyataan tersebut disampaikan meskipun harga minyak dunia sempat menembus US$100 per barel dalam beberapa waktu terakhir.

Sumber: Kyodo-ANTARA