5 Cerita di Balik Berakhirnya Penantian 35 Tahun Indonesia

Pemain Timnas Indonesia mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup 2026 - (foto by @timnasindonesia/instagram)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026 bukan sekadar trofi. Di balik malam bersejarah di Stadion Utama Gelora Bung Karno itu, ada perjalanan panjang, drama yang menguras emosi, dan rekor yang akhirnya terpecahkan.

Berikut lima fakta menarik yang membuat gelar ini begitu istimewa.

1. Perjalanan Berat Menuju Puncak

Garuda tidak datang ke turnamen ini dengan rasa percaya diri penuh. John Herdman dilantik Januari 2026 setelah Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia 2026.

Di bawah pelatih asal Inggris itu, Indonesia menjadi runner-up FIFA Series setelah kalah 0-1 dari Hungaria di final, lalu gagal lolos fase grup Piala AFF 2026.

Kekalahan 0-3 dari Vietnam sempat membuat tekanan terhadap sang pelatih menguat.

Karena itu, FIFA ASEAN Cup menjadi ajang pembuktian. Di fase grup, Indonesia menggilas Bangladesh 9-2, sementara Malaysia secara bersamaan menang 6-0 atas Singapura.

Kedua tim sama-sama mengantongi tujuh poin dengan selisih gol sama, tetapi Garuda lolos ke final karena unggul produktivitas, 11 gol berbanding sembilan.

2. Drama Adu Penalti

Final melawan Thailand berlangsung dramatis. Thailand kehilangan Nicholas Mickelson lewat kartu merah menit ke-81, Dean James membuka skor menit ke-84, dan Iklas Sanron menyamakan kedudukan menit ke-87.

Di perpanjangan waktu, Peeradol Chamrasamee membuat Thailand berbalik unggul, tetapi Elkan Baggott menyamakan skor menit ke-116 lewat umpan tarik Rizky Ridho.

Adu penalti pun menjadi penentu. Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, dan Shayne Pattynama semuanya sukses. Dua penendang Thailand, Sarach Yooyen dan Nattapong Sayriya, gagal.

Penyelamatan Emil Audero atas tendangan Sayriya menjadi momen yang mengunci trofi. Pilihan Herdman memakai eksekutor dari lini belakang juga terbukti jitu.

3. Garuda Patahkan Kutukan

Selama bertahun-tahun, Indonesia lekat dengan label spesialis runner-up. Di Piala AFF, Garuda enam kali menjadi finalis tanpa pernah juara.

Kali ini ceritanya berbeda. Indonesia bangkit dari ketertinggalan di perpanjangan waktu dan menang di titik putih, sesuatu yang selama ini identik dengan kegagalan di partai puncak.

4. Penantian 35 Tahun

Inilah inti dari seluruh euforia. Gelar terakhir tim senior datang di SEA Games 1991, ketika Indonesia mengalahkan Thailand lewat adu penalti 4-3.

Setelah itu, emas SEA Games 2023 di Kamboja tidak dihitung karena diraih Timnas U-23.

Menariknya, lawan yang dikalahkan pada 1991 dan 2026 sama, dengan cara yang sama pula. Sebagai juara edisi perdana, Indonesia berhak atas hadiah Rp11,6 miliar.

5. John Herdman Bangga

Bagi Herdman, kemenangan ini adalah buah dari pesan yang ia ulang sejak awal. Sebelum turnamen, ia menyebut lawan terbesar Garuda adalah diri sendiri, yakni mentalitas dan standar tim.

Usai final, ia memuji mentalitas pantang menyerah anak asuhnya, yang bangkit dari ketertinggalan di menit-menit akhir.

Namun sang pelatih tidak larut dalam pesta. Ia mengaku belum mendengar rencana perayaan, juga persiapan menuju Piala Asia 2027. Bagi Herdman, trofi ini adalah pijakan, bukan garis akhir.