Asap Selimuti Makassar, Pemkot Siagakan Puskesmas dan Bagi Masker
Kabut asap selimuti Makassar, Rabu (14/10) - (ist)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Langit Kota Makassar diselimuti kabut asap pekat akibat kiriman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pantauan Celebesmedia.id, langit Makassar mulai diselimuti kabut asap dua hari terakhir.
Sementara data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) IV Makassar, kualitas udara di Kota Makassar dan sekitarnya pada hari ini, Rabu (14/10) berada dalam kategori sangat tidak sehat. Partikel halus atau (PM_{2,5}\) mengalami peningkatan sejak pagi hari dan sempat menembus angka lebih dari 135–156 µg/m³, dengan status naik ke level sangat tidak sehat sejak pukul 09.00 WITA.
Menyikapi kondisi ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar bergerak cepat menggelar rapat koordinasi lintas sektor di Balai Kota Makassar.
Langkah taktis ini merupakan instruksi Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin guna mengendalikan dampak pencemaran udara terhadap kesehatan warga dan aktivitas pendidikan. Rapat tersebut dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Makassar, Andi Zulkifly Nanda, dengan melibatkan BMKG serta jajaran perangkat daerah.
Meski tidak hadir langsung dalam rapat, Munafri menegaskan bahwa pengawasan kondisi udara dan sinergi antarlembaga terus diperkuat secara berkala.
"Saya terus memantau perkembangan kabut asap di Makassar. Koordinasi lintas SKPD dan lintas instansi, termasuk dengan BMKG terkait kondisi cuaca, terus kita lakukan untuk mengikuti perkembangan situasi," kata Wali Kota yang akrab disapa Appi itu.
Sebagai langkah preventif, Pemkot Makassar mendistribusikan masker khususnya kepada anak-anak, salah satunya didistribusikan kepada para siswa di SMP Negeri 6 Makassar. Dinas Kesehatan juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta menyiapkan stok oksigen medis di RSUD dan Puskesmas.
Untuk sektor pendidikan, kegiatan belajar mengajar saat ini masih berlangsung normal. Namun, Pemkot menyiapkan opsi pembelajaran jarak jauh (PJJ) apabila kualitas udara memburuk hingga level membahayakan.
"Kita menunggu status dari pemantauan seperti apa. Jika kategori berbahaya, maka kebijakan kita ambil sesuaikan dengan tingkat risiko di lapangan," tegas Appi.
Pemkot Makassar juga mengintegrasikan pembaruan data kualitas udara harian melalui aplikasi Lontara, bekerja sama dengan Diskominfo, BMKG, dan Dinas Lingkungan Hidup. Informasi ini disediakan agar masyarakat dapat memantau status udara secara real-time dan menyesuaikan aktivitas luar ruangan demi menjaga kesehatan.
