Jejak Trem Uap Belanda di Stasiun Jongaya

Perayaan peresmian Jalur kereta api Makassar – Takalar, 1 Juli 1923 - (foto by Wikipedia)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di antara rapatnya rumah warga di Kelurahan Jongaya, Kecamatan Tamalate, tersimpan bangunan tua yang jarang disadari banyak orang. 

Dari luar, bentuknya menyerupai hunian biasa. Namun bangunan di Jalan Muh. Tahir Nomor 52 ini adalah stasiun kereta api peninggalan masa kolonial Belanda, bukti bahwa Makassar pernah dilintasi trem uap. 

 Dinas Kebudayaan Kota Makassar lewat Bidang Pelestarian Cagar Budaya mencatat bangunan tersebut sebagai cagar budaya sejak  Rabu, 14 Mei 2025 lalu.

Menurut data Simcabud Makassar, stasiun ini dibangun oleh Staatstramwegen op Celebes, salah satu divisi Staatsspoorwegen, dan mulai beroperasi pada 1 Juli 1923.

Bangunan ini merupakan bagian dari jalur Pasarbutung–Takalar. Catatan Wikipedia menyebut jalur tersebut sebagai jalur kereta api pertama sekaligus terakhir yang berhasil dibangun Belanda di Pulau Sulawesi, menghubungkan Stasiun Pasarbutung dengan Stasiun Takalar.

Usia operasional kereta di jalur ini ternyata singkat, hanya sekitar tujuh tahun, karena dinilai kurang menguntungkan. Setelah itu fungsi bangunan Stasiun Jongaya berubah-ubah. Pada 1973 gedung ini sempat dipakai sebagai kantor polisi, sebelum akhirnya menjadi rumah tinggal hingga sekarang.

Meski sudah berkali-kali beralih fungsi, jejak aslinya belum sepenuhnya hilang. Di sisi kiri dan kanan bangunan, tulisan "Jongaya Stasiun" masih terlihat samar sebagai penanda identitas awalnya.

Pelestarian Stasiun Jongaya dinilai penting, bukan sekadar merawat bangunan lama, tetapi juga menguatkan identitas sejarah Makassar di tengah pesatnya pembangunan kota modern. Dari bangunan sederhana inilah, cerita tentang kereta api yang pernah melintasi Makassar bisa terus dikenang.