Sektor Keuangan Tetap Stabil di Tengah Gejolak Global

Tangkapan layar zoomeeting

CELEBESMEDIA.ID, MakassarOtoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) Indonesia tetap terjaga meski perekonomian global masih dibayangi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi.

Dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan, Selasa (4/8) OJK menyatakan kondisi sektor keuangan nasional tetap kuat berkat dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang mampu menjaga stabilitas ekonomi.

Di tingkat global, konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah gagalnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada awal Juli 2026. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan risiko terhadap perekonomian global.

Dana Moneter Internasional (IMF) juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3 persen dari sebelumnya 3,1 persen. 

Selain itu, kebijakan tarif baru Amerika Serikat terhadap 60 negara mitra dagang turut meningkatkan ketidakpastian pasar dan menjaga volatilitas harga komoditas global.

Di dalam negeri, inflasi Juli 2026 tercatat 2,88 persen secara tahunan (year on year/yoy), menunjukkan tekanan harga tetap terkendali.

Aktivitas manufaktur juga kembali tumbuh. Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli 2026, menandakan sektor industri kembali berada di zona ekspansi.

Menurut OJK, kondisi tersebut menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah tekanan ekonomi global.

Pasar saham domestik mencatat kinerja positif sepanjang Juli 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.236,13 atau naik 10,51 persen dibanding bulan sebelumnya. Namun, secara tahun berjalan (year to date/ytd), IHSG masih terkoreksi 27,88 persen.

Sentimen pasar juga membaik. Investor asing mencatat pembelian bersih (net buy) sebesar Rp1,62 triliun setelah pada Juni 2026 membukukan penjualan bersih Rp19,63 triliun.

Likuiditas pasar ikut membaik. Rata-rata bid-ask spread menyempit menjadi 1,33 persen, sementara rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp14,31 triliun.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) naik 0,14 persen menjadi 430,46 pada akhir Juli 2026. Meski yield Surat Berharga Negara (SBN) meningkat akibat tingginya risiko global, minat investor asing tetap positif dengan pembelian bersih Rp6,39 triliun hingga 29 Juli 2026.

Sementara itu, industri pengelolaan investasi juga menunjukkan kinerja yang baik. Nilai aset kelolaan (Asset Under Management/AUM) mencapai Rp1.025,12 triliun, sedangkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana meningkat menjadi Rp663,26 triliun.

Investor reksa dana juga membukukan pembelian bersih (net subscription) sebesar Rp3,43 triliun selama Juli 2026.

OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga. Inflasi yang terkendali, aktivitas manufaktur yang kembali tumbuh, serta membaiknya kinerja pasar keuangan menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi tantangan ekonomi global.