Blokade Selat Hormuz, Trump Ancam 'Lenyapkan' Kapal Iran
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan akan mengambil langkah tegas terhadap kapal-kapal Iran yang mendekati wilayah blokade maritim terbaru. Ia bahkan memperingatkan bahwa kapal cepat milik Iran akan “dilenyapkan” jika mencoba mendekat.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin (13/4/2026), hanya beberapa jam setelah kebijakan blokade terhadap lalu lintas kapal dari dan menuju pelabuhan Iran resmi diberlakukan pada pukul 14.00 GMT atau 21.00 WIB.
Melalui unggahannya di platform Truth Social, Trump menyebut kapal cepat Iran sebagai ancaman serius yang tidak akan ditoleransi.
“Jika kapal-kapal ini mendekati blokade kami, mereka akan segera dilenyapkan dengan sistem yang sama seperti yang kami gunakan terhadap kapal pengedar narkoba di laut. Cepat dan brutal,” tulis Trump, dikutip dari Reuters.
Blokade ini terjadi di tengah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung selama enam pekan. Iran sebelumnya disebut telah menutup secara efektif Selat Hormuz sebagai respons atas serangan militer AS dan Israel.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global, yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Gangguan di kawasan ini berpotensi besar memicu lonjakan harga energi secara global.
Trump juga mengklaim bahwa kekuatan angkatan laut konvensional Iran telah “hancur total” akibat serangan yang terjadi selama konflik berlangsung. Namun, sejumlah analis menilai situasi di lapangan tidak sesederhana itu.
Meski kekuatan laut konvensionalnya melemah, Iran dinilai masih memiliki kemampuan bertahan melalui strategi asimetris. Menurut laporan BBC, mantan komandan Angkatan Laut Kerajaan Inggris, Tom Sharpe, menyebut Iran tetap berbahaya.
Ia menjelaskan bahwa Iran masih dapat mengandalkan berbagai metode, mulai dari kapal cepat bersenjata, kapal selam mini, ranjau laut, hingga kendaraan kecil seperti jet ski yang dipasangi bahan peledak.
Kemampuan tersebut dinilai cukup efektif untuk mengganggu operasi militer maupun pelayaran di kawasan, meskipun berada di bawah tekanan besar dari Amerika Serikat.
Situasi yang semakin tegang ini meningkatkan risiko eskalasi konflik yang lebih luas, sekaligus memperbesar ketidakpastian terhadap stabilitas jalur perdagangan energi dunia.
Konflik Iran sendiri bermula setelah serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu. Serangan awal tersebut bahkan dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke berbagai target yang terkait dengan AS dan Israel, termasuk di kawasan Teluk. Selain itu, Iran juga menutup Selat Hormuz dan hanya mengizinkan kapal dari negara tertentu untuk melintas.
Sumber: BBC, Reuters, Kompas
